The Independent Insight

Giving truth a voice

  • Email
  • Facebook
  • Flickr
  • Instagram
  • Phone
  • Twitter
  • Vimeo
  • YouTube
  • Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Reviu
    • Reviu Buku
    • Reviu Filem
    • Reviu Muzik
  • Rencana
  • Podcast
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami

Tidur Siang Singkat: Kepingan yang Hilang dalam Pendidikan Karakter Kita di Indonesia

December 23, 2025 By Editor The Independent Insight

Oleh: Muhammad Syarif Hidayatullah

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” sebut dalam QS. Ar-Rum: 23, jika tulisan ini dizinkan untuk membuka topik yang akan dibahas dalam tulisan ini.


Tidurmu pada siang hari. Kalimat itu adalah sebuah klausa dependen yang didikte oleh Qur’an dari khazanah dunia Islam. Dalam ilmu bahasa, klausa dependen itu wajib (seharusnya) bertemu dengan klausa independen; agar sebuah pesan atau makna sebuah bahasa dapat dipahami lengkap maknanya, secara bangunan konseptual. Akhirnya jika kalimat itu lengkap, dan maknanya berisi satu pikiran yang kuat dan jelas (lengkap) maka dengannya bisa ditindaklanjuti menjadi sebuah gerakan atau perbuatan yang benar.


Biarkan kami mengusulkan sebuah pandangan untuk meningkatkan apa yang sudah kita kerjakan bersama, tentang kebiasaan baik yang sebaiknya diikutkan dalam gerakan pendidikan kita di Indonesia.


Kepada yang kita beri salam kebaikan selalu dan hormati, Menteri Dikdasmen RI, staf, dan komunitas saintis, dokter, ahli pendidikan, dan para pihak lain yang bersangkutan dalam wewenang dan keilmuan dalam konteks hal yang akan dibahas dalam tulisan ini. Ada satu hal baik yang luput, dan statusnya bahkan lebih utama yang dapat digandengkan di dalam implementasi Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yaitu aktivitas tidur siang singkat (napping) bagi siswa dasar dan menengah, bahkan untuk pelajar level perguruan tinggi.


Saya mengenal sekali aktivitas tidur siang itu dibiasakan sejak kecil oleh orang tua kita. Bahkan diingatkan, boleh pergi main di luar rumah asal tidur siang terlebih dahulu ujar orang tua kita di masa lalu.


Namun, di masa modern ini justru tidur siang paradigmanya berubah. Dengan aturan, dan asas profesionalisme serta produktifitas. Seakan-akan, paradigma kerja tanpa henti dari pagi ke petang itu simbol final kemajuan dan peradaban dunia modern.


Kapitalisme dan budaya modern mengarahkan dan membentuk kita untuk cenderung meninggalkan kegiatan apa saja, selain kerja semata. Terpenting, bahwa asal seluruh kegiatan pekerjaan dan belajar-mengajar itu dijalankan menurut aturan. Tanpa kita berpikir untuk merefleksikan kembali hal-hal kebiasaan lain yang juga penting, bahkan banyak kebiasaan positif tertentu itu telah hilang. Ia hilang disebabkan karena kecepatan dan efisiensi teknis-mekanis budaya kerja dan belajar yang sedang dasawarsa ini kita akrabi.


Padahal gerakan, aturan, atau program apapun itu ciptaan atas kesepakatan, yang berasal dari proses yurisprudensi hingga menjadi aturan atau program yang tidak jarang tanpa kita sadari sudah dianggap final. Ia menjadi aksioma, atau kebiasaan yang sudah menjadi status quo, dan dianggap sudah paling benar dan sesuai.
Ya, kita sedang membicarakan tentang bagaimana pemerintah melalui Kemendikdasmen telah meluncurkan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, atau jika boleh saya singkat dengan G7KAIH.

Relevansi dalam Gerakan Pendidikan Nasional

G7KAIH ini sebuah peluncuran gerakan inisiatif strategis dalam proses mengejewantahkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul, bagian dari Asta Cita ke-4 pemerintah. Yaitu mewujudkan karakter anak-anak Indonesia agar menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter unggul.


Sebetulnya, tujuan G7KAIH yang disebut itu memberikan kita pemahaman bahwa, seorang siswa atau siswi dapat cerdas hanya jika kondisinya sehat lahir pun batin. Dan kondisi psikologis yang baik berkorelasi dengan tubuh yang juga sehat. Gagasan Kemendikdasmen dalam pengembangan sistem pendidikan nasional yang berorientasi pada penguatan karakter bangsa. Dengan menanamkan delapan karakter utama bangsa yaitu religius, bermoral, sehat, cerdas, kreatif, kerja keras, disiplin, mandiri, dan bermanfaat itu selalu dimulai dari tubuh dan kondisi psikologis para murid yang kuat dan sehat.


Salah satu G7KAIH yaitu anak dapat melakukan Olahraga, menjadi bagian yang juga penting. Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik memiliki dampak signifikan pada fungsi kognitif emosional yang sangat penting bagi pembelajaran yang efektif di sekolah. Disebutkan bahkan aktivitas fisik meningkatkan proses belajar melalui pelepasan neuro-transmiter seperti dopamin dan serotonin, yang berperan dalam meningkatkan fokus, motivasi, dan suasana hati (Doherty & Fores Miravalles, 2019). Hingga pada akhirnya melalui G7KAIH ini diidamkan terbentuk kebiasaan atau karakter unggul yang dimiliki oleh para murid atau anak Indonesia.


Kita paham bahwa, sebuah aturan atau gerakan yang baru dilakukan, akan terasa berat di awal dan akan berusaha mengalami tabrakan kepentingan, dan penyesuaian yang mengambil durasi yang relatif panjang untuk dapat diimplementasikan oleh sekolah di seluruh Indonesia. Namun, proses penyesuaian program yang lama; bukan berarti bahwa kebiasaan baik yaitu tidur siang singkat tersebut tiada tempatnya lagi untuk dimasukkan dan diterapkan ke dalam G7KAIH. Justru, penyesuaian atas tambahan itu menyempurnakan dan mengakselerasi terwujudnya 8 (delapan) Karakter Utama Bangsa.


Bahwa program atau gerakan, pun ide apapun mesti sudah biasa mengalami tesa-antitesa-sintesa, yaitu perubahan (baik pengurangan, penyempurnaan, pun penambahan) dalam prosesnya.


Sebab, untuk mencapai keunggulan. Kita harus mengalami turbelensi, terbentur, kemudian terbentur akhirnya terbentuk cita-cita bangsa ini yang diharapkan bersama.
Dalam tulisan ini, menurut hemat penulis bahwa tidur lebih awal (tidur di waktu malam) salah satu dari G7KAIH itu tidaklah cukup. Bahkan, kurang. Sebab, tidur pada malam hari mesti juga diikuti oleh kegiatan tidur singkat di siang hari. Sebaiknya dua hal tersebut tidak dipisahkan secara sengaja, hanya karena didorong oleh asas kecepatan dan produktivitas.


Kita harus tahu, bahkan tidur siang sekali lagi bukan sesuatu yang dekaden (sebuah kemunduran) di depan “kursi kekuasaan asas produktivitas”.


Justru produktivitas itu muncul sebagai etos yang mesti berpasangan dengan istirahat. Anda boleh kerja dan belajar sebagai kegiatan produktif dalam durasi selama apapun, tapi anda selalu membutuhkan tidur dan istirahat yang cukup. Begitu pula dengan anda dapat tidur dan istirahat dalam durasi selama apapun yang mampu dilakukan, tapi tubuh selalu butuh bangun dan terjaga untuk melakukan aktivitas gerak dan rentetan kegiatan positif lainnya sebagai insan yang produktif. Kesempatan kepada tubuh untuk melakukan aktivitas positif yaitu melalui aktivitas tidur siang.


Walaupun, aktivitas tidur siang dikecualikan untuk beberapa murid dengan gejala dan situasi tertentu. Sebab, terdapat kondisi yang tidak dianjurkan untuk tidur siang seperti seseorang yang terkena insomnia, inersia tidur, atau mengonsumsi kafein yang terdapat dalam kopi atau minuman berenergi, pun atau dari berbagai jenis kondisi dan gangguan tidur lainnya yang dapat menjadi catatan dan perhatian. Olehnya itu, dapat secara pribadi mendapatkan penanganan lebih lanjut ke fasilitas kesehatan yang dapat bekerjasama dengan sekolah atau konsultasi dokter atas persetujuan murid dan wali murid dalam proses menangani situasi pada hal-hal tersebut.

Basis Ilmiah: Otak Butuh Jeda


Seorang Professor dari Departemen Sejarah Virginia Tech Amerika Serikat, Ekirch berpendapat bahwa sepanjang sebagian besar sejarah manusia, praktik umum tidur adalah tidur tersegmentasi. Dalam penelitiannya (2005; 2015), ia menjelaskan bahwa masyarakat pra-industri biasanya tidur dalam dua fase: tidur pertama dan tidur kedua, yang dipisahkan oleh masa terjaga sekitar satu jam setelah tengah malam. Pada periode terjaga ini, orang biasanya bermeditasi, berbincang, atau melakukan kegiatan lainnya (2015, halaman 152). Meskipun para ilmuwan belum mencapai kesepakatan bahwa pola tidur tersegmentasi ini bersifat universal lintas budaya, penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan tidur manusia sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya (Reiss 2017, halaman 33–35).


Buku terbaru Ekirch, yaitu La Grande Transformation du Sommeil: Comment la Revolution Industrielle a Bouleverse Nos Nuits (Transformasi Besar Tidur: Bagaimana Revolusi Industri Mengubah Malam Kita), diterbitkan pada Januari 2021 oleh Editions Amsterdam di Paris. Karya tersebut menghimpun sejumlah artikel, di antaranya dua tulisan Ekirch sendiri, yang secara mendalam menelaah penelitian beliau mengenai sejarah tidur serta implikasi intelektual dan sosial dari temuan-temuan tersebut. Dengan menyebutkan bahwa tidur dan cara kita memandangnya itu dipengaruhi oleh bentukan sosial dan peradaban yang memengaruhi cara dan ”waktu yang baik” bagi masyarakat di tiap generasi tertentu di dalamnya.


Tidur siang singkat menurut hemat penulis, yang hanya 15-20 menit (disebutkan dalam studi bahwa tidak disarankan untuk tidur siang lebih dari 30 menit dan tidur siang setelah jam 3 sore) terbukti positif bagi peningkatan konsentrasi, kewaspadaan, menurunkan hormon kortisol akhirnya meredakan stres, tekanan darah yang menjadi turun secara ideal, memperbaiki mood atau suasana hati murid, kemudian meningkatkan kekuatan ingatan (meningkatnya kemampuan atau daya otak murid dalam mengingat), meningkatkan kesehatan jantung, dan fungsi otak lainnya. Apalagi, aktivitas ini dapat menjadi alokasi waktu yang cocok untuk sekaligus menjadi puasa gawai (terlepasnya sementara kita dari dominasi gawai dalam kegiatan belajar-mengajar di zaman serba digital sekarang ini).


Penelitian terbaru dari University of California, Berkeley, menunjukkan bahwa tidur siang selama satu jam dapat secara signifikan meningkatkan dan memulihkan kemampuan otak. Temuan tersebut bahkan mengindikasikan bahwa pola tidur bifasik tidak hanya menyegarkan pikiran, tetapi juga dapat meningkatkan kecerdasan seseorang.


Sebaliknya, semakin lama kita terjaga, semakin menurun pula ketajaman fungsi kognitif kita. Temuan ini sejalan dengan data sebelumnya dari tim peneliti yang sama, yang menunjukkan bahwa begadang semalaman, praktik yang umum dilakukan mahasiswa saat ujian tengah semester atau akhir, dapat menurunkan kemampuan menyerap informasi baru hingga hampir 40 persen akibat tidak berfungsinya sejumlah area otak selama kurang tidur.


Mengutip Matthew Walker, seorang sleep scientist dari UC Berkeley yang setelah memaparkan hasil penelitian mengatakan bahwa manusia membutuhkan tidur baik sebelum dan sesudah belajar sebagaimana yang dijelaskan oleh Matthew Walker di jurnal Elsevier berjudul Cognitive Consequences of Sleep and Sleep Loss. Tidur tidak hanya memperbaiki metabolisme tubuh dibanding di saat seseorang tidak mendapat tidur yang cukup. Tetapi juga bahwa tidur pada level neurokognitif dapat membuat tubuh dan psikologis menjadi lebih baik dan produktif, dibandingkan situasi sebelum anda tidur siang.

Bahkan Matthew Walker menunjukkan grafik hasil penelitian yaitu mahasiswa yang tidur siang (grafik batang warna hijau) menunjukkan hasil yang jauh lebih baik dalam tes memori dibandingkan mereka yang tidak tidur siang yang ditandai pada grafik batang warna merah.

Belajar dari Praktik Global

Tidur siang singkat, bukanlah isapan jempol saja. Tidak penting, atau omong kosong. Sebab, negara maju saja seperti Jepang sudah lama menerapkan inemuri atau tidur siang singkat, Jepang menyebut program “Utouto Time” yang di mana tidur siang singkat itu dilakukan menjelang akhir makan siang jam sekolah. Utouto Time sudah diimplementasikan di SMP dan SMA di wilayah Uto, Prefektur Kumamoto hingga daerah Fukuoka, Jepang.


Di Jepang para murid dipersilakan tidur siang singkat di bangku mereka sendiri. Ketua kelas akan menutup tirai dan mematikan lampu, dan memutar musik-musik instrumen pengantar tidur untuk mempercepat proses lelap tidur siang singkat tersebut. Ini terbukti bekerja, dan sukses dilakukan oleh negara sekaliber Jepang, bukan mustahil dilakukan oleh sekolah-sekolah yang ada di Indonesia.


Tidur siang didesain hanya 10 sampai 15 menit saja, bel akan berbunyi kencang tanda waktu tidur siang singkat sudah berakhir dan para murid, langsung kembali belajar seperti biasanya. Dan sebagai catatan, Jepang sudah menjalankan program inemuri atau tidur singkat siang sejak tahun 2015 silam.


Hal yang sama juga diterapkan di Meksiko, dan bahkan oleh negara yang sudah maju seperti Tiongkok. Sekolah di daerah Huichang, Provinsi Jiangxi, Tiongkok menyediakan kursi tidur dan meja lipat. Bahkan dilaporkan oleh China Daily bahwa setidaknya ada 21 ribu murid SD di provinsi Hebei selalu senang ketika pukul 12:30 siang, karena diminta gurunya untuk mengubah kursi juga meja mereka menjadi tempat tidur siang singkat.


Menariknya, berbeda istilah dan ragam bentuk napping (tidur siang singkat) seperti di Jepang dan Tiongkok. Di Spanyol dan negara Mediterania lainnya, ketika siang hari masyarakat negara-negara Mediterania terbiasa melakukan aktivitas tidur siang, yaitu disebut dengan sebutan Siesta. Sedangkan, bagi orang-orang Italia sangat lumrah dalam menjalankan kegiatan Riposo, kegiatan yang sama yaitu waktu yang digunakan oleh orang Italia untuk beristirahat. Banyak jajaran pemilik toko dan dan pekerja melakukan aktivitas ini.


Sedangkan kultur lain dari belahan bumi lain, seperti di Islandia, kebanyakan masyarakatnya dilatih untuk tidur siang di luar ruangan (outdoor), bahkan sejak bayi.
Ini memang menjadi bukti, bahwa kultur demikian yang disebut di atas dijalankan sejak lama dan dianggap sebagai bagian rutinitas untuk mengoptimalkan tenaga dan pikiran agar maksimal dalam mengerjakan kegiatan hidup produktif lainnya. Peneliti dari Pennsylvania University di jurnal Sleep pada tahun 2019, dan riset Nathalia, dkk yang terbit di jurnal Frontiers in System Neurosciense (2018) menyebutkan tidur di sekolah yang difasilitasi dapat meningkatkan durasi declarative memory atau ingatan jangka panjang dalam sistem memori otak.


Dijelaskan lebih detail dalam jurnal tersebut bahwa jika anda tidur siang singkat, maka memiliki korelasi positif dengan kebahagiaan, ketabahan, dan peningkatan pengendalian diri yang jauh lebih tinggi. Bersamaan pula berkurangnya masalah perilaku internalisasi, dalam proses penyerapan atas nilai-nilai hidup. Tentu saja dengan skema dan mekanisme yang diperhitungkan dan diterapkan secara benar dan tepat oleh seluruh pemangku kepentingan, maka kita dapat terus menyempurnakan cita-cita bangsa kita; menjadi generasi yang unggul dan berkarakter tangguh.

Implementasi di Indonesia


Sekali lagi, tidur siang singkat meningkatkan kecerdasan verbal, dan yang pasti meningkatkan prestasi akademik yang lebih baik.

Mengintegrasikan tidur siang singkat ke dalam G7KAIH adalah langkah strategis. Ini bisa menjadi momen “puasa gawai” sejenak bagi siswa di era digital. Tentu, pelaksanaannya memerlukan penyesuaian. Siswa dengan kondisi tertentu seperti insomnia atau gangguan tidur lainnya perlu penanganan khusus bekerjasama dengan fasilitas kesehatan.


Namun, tantangan teknis tidak boleh menghalangi manfaat besarnya. Jika kita mendambakan generasi yang cerdas, tangguh, dan bahagia, kita harus berani mengoreksi definisi produktivitas kita. Tidur siang singkat bukan tentang bermalas-malasan; ia adalah investasi biologis untuk mencetak prestasi akademik yang lebih tinggi dan karakter yang lebih kuat.


Sudah saatnya kebiasaan baik ini dikembalikan ke dalam ruang kelas kita. Sebagaimana kita tahu investasi terbaik dan tepat kita di bidang pendidikan, sama pentingnya dengan peningkatan kesehatan generasi ini yang diamanatkan oleh undang-undang dasar dan para Founding Persons kita. Bahwa Pasal 28C ayat (1) UUD 1945 mengarahkan dengan tepat yaitu setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. Dan kita bisa mencapai itu sebagai bangsa dan tanah air yang besar dan kuat.

Muhammad Syarif Hidayatullah merupakan guru sekolah Islam Al-Azhar BSD@Cileungsi dan Direktur Eksekutif Salaja Pustaka Institute.

Tidur-Siang-SingkatDownload
Editor The Independent Insight

Kami mengalu-alukan cadangan atau komen dari pembaca. Sekiranya anda punya artikel atau pandangan balas yang berbeza, kami juga mengalu-alukan tulisan anda bagi tujuan publikasi.

Filed Under: Rencana Tagged With: Indonesia, Pendidikan Nasional, Tidur, Tidur Siang

Aspek Yang Menghubungkan Orang Cina Di Tanah Melayu Dengan Negara China, 1850-2000

December 1, 2025 By Syed Ahmad Fathi Bin Syed Mohd Khair

Terima kasih Jurnal Melayu Sedunia (JMS) Universiti Malaya kerana menerima dan menerbitkan artikel terbaharu saya dalam Vol. 8 (1). Artikel ini merupakan penelitian saya kepada beberapa sumber perihal etnik Cina yang membentuk masyarakat majmuk di Tanah Melayu (Malaysia). Penelitian seperti ini pastilah tidak lengkap jika tidak merujuk kepada sarjana yang terkemuka dalam bidang ini iaitu Prof. Wang Gungwu.

Etnik Cina bukan wujud di Tanah Melayu sahaja, mereka juga membentuk populasi yang signifikan di negara Asia Tenggara lain dan ditermakan sebagai “hua-qiao” atau overseas Chinese. Wang Gungwu mencerakinkan lagi kategori masyarakat Cina ini sebagai “huashang”, “huagong”, dan fenomena paling kontemporari adalah kategori “huayi”.

Dalam artikel ini juga saya menyingkap peristiwa bersejarah tentang bagaimana Malaysia menjadi negara ASEAN pertama yang menjalinkan hubungan diplomatik dengan negara komunis China. Hubungan Malaysia dengan komunis tegang kerana perang dan darurat dari 1948 hingga 1960. Bagaimana selepas 14 tahun darurat tamat, Malaysia dapat menjalinkan hubungan diplomatik dengan negara komunis ini? Merujuk kepada tulisan guru saya, Dr. Tan Chee Seng, saya cuba menjawab persoalan ini.

Artikel ini boleh diakses secara percuma, klik pautan di bawah:

Syed Ahmad Fathi. “Aspek Yang Menghubungkan Orang Cina Di Tanah Melayu Dengan Negara China, 1850-2000: Aspects That Shape the Relationship Of Ethnic Chinese In Malaya With China, 1850-2000”. Jurnal Melayu Sedunia 8 (1): 104-115, 2025. e-ISSN: 2637-0751

Syed Ahmad Fathi Bin Syed Mohd Khair
Syed Ahmad Fathi Bin Syed Mohd Khair

Author of several books including Berfikir Tentang Pemikiran (2018), Lalang di Lautan Ideologi (2022), Dua Sayap Ilmu (2023), Resistance Sudah Berbunga (2024), Intelektual Yang Membosankan (2024), Homo Historikus (2024), DemokRasisma (2025), dan Dari Orientalisma Hingga ke Genosida (2025). Fathi write from his home at Sungai Petani, Kedah. He like to read, write and sleep.

independent.academia.edu/SyedAhmadFathi

Filed Under: Rencana Tagged With: China, hubungan diplomatik, Jurnal JMS, Malaysia, sejarah, Tun Razak

Kisah Pelombong Melayu Perak Yang Hilang Dari Historiografi

November 30, 2025 By Syed Ahmad Fathi Bin Syed Mohd Khair

Forgotten History of Perak: Tribute to Syed Mohd Jiplus The Malay Tin Miner in Kinta Valley, Perak.

Hari ini akhirnya MINDEN: Journal of History and Archaeology telah menerbitkan artikel saya yang bertajuk “Tinjauan Awal Terhadap Penglibatan Orang Melayu Dalam Industri Perlombongan Bijih Timah di Perak, 1874–1941″ dalam versi digital.

Artikel ini mempunyai pautan peribadi dengan saya, maka di sini saya ingin menceritakan sedikit backstory-nya. Seperti yang saya kisahkan dalam buku saya Homo Historikus: Perkembangan Kesedaran Sejarah di Malaysia terbitan Cakna, saya menceburi bidang sejarah atas sebab-sebab peribadi. Saya selalu melihat sejarah sebagai satu bidang yang personal. Walaupun ahli sejarah sering mengangkat keperluan “objektiviti”, bagi saya itu sering menjadikan bidang sejarah kering, tiada tarikan emosional dan pertalian perasaan di dalamnya. Bagi saya, nilai perasaan dan emosi itulah yang menjadikan bidang kemanusiaan itu menarik untuk dibaca dan diterokai.

Sejarah yang menarik bagi saya pasti ada hubungan dengan penulis sejarah. Itu tidak dapat dielakkan, walaupun sering cuba dinafikan. Saya berminat membaca sejarah perlombongan bijih timah di Perak kerana atuk saya, Syed Mohd Jiplus bekerja sebagai pelombong bijih timah di Syarikat Southern Kinta Consolidated Ltd. Beliau bekerja sebagai buruh di atas Kapal Korek SK-2. Nama kapal korek ini biasanya ada kaitan dengan tempat dan syarikat. SK-2 merujuk kepada kapal korek Southern Kinta kedua. Kapal TT5 yang dipelihara di Batu Gajah bagi tujuan pelancongan misalnya merujuk kepada Tanjung Tualang kelima.

Syarikat Southern Kinta kemudian telah bergabung dengan syarikat-syarikat perlombongan lain membentuk Malayan Tin Dredging (MTD) berhad dan kemudian membentuk Malaysia Mining Corporation (MMC) Berhad. MMC kini sudah menjadi syarikat konglomerat yang menjalankan aktiviti perniagaan tenaga, utiliti, dan infrastruktur.

Namun apabila saya membaca historiografi perihal perlombongan bijih timah di Perak. Hampir keseluruhannya hanya berkisar perihal pelombong Cina yang merupakan majoriti buruh lombong bijih timah. Pelombong Melayu hilang dalam historiografi. Perkara ini menimbulkan persoalan yang sangat kuat dalam diri saya. Ke manakah pelombong Melayu itu hilang?

Syed Ahmad Fathi. “Tinjauan Awal Terhadap Penglibatan Orang Melayu Dalam Industri Perlombongan Bijih Timah di Perak, 1874–1941: Preliminary Survey on the Involvement of the Malay in the Tin Mining Industry in Perak, 1874-1941”. MINDEN Journal of History and Archaeology 2 (2): 115-134, 2025.

Kajian-kajian awal perihal pelombong bijih timah hampir eksklusif hanya menyebut tentang buruh Cina sahaja. Ini boleh dilihat dalam penulisan Wong Lin Ken, Nim Chee Siew, dan Francis Loh Kok Wah antaranya. Membuatkan saya bertanya-tanya betulkah atuk saya bekerja sebagai buruh di lombong bijih timah? Atuk saya bukan orang Cina, beliau adalah imam masjid di Kampung Changkat Tin.

Maka ini telah menolak saya untuk membaca rekod-rekod statistik British, saya dapati orang Melayu memang disenaraikan dalam jumlah buruh setiap tahun. Saya juga menjumpai rekod di mana orang Melayu bekerja di lombong milik orang Cina, mereka dibayar lebih mahal kerana makanan tidak disediakan bagi mereka di lombong. Mungkin pelombong Melayu mahukan makanan halal jadi mereka bawa makanan sendiri dan gaji mereka dilebihkan. Saya juga ke arkib melihat rekod-rekod Pejabat Tanah, saya tertarik melihat orang-orang Melayu termasuk wanita memohon tanah untuk melombong.

Malah catatan British ketika mereka mula masuk secara langsung dalam pemerintahan negeri-negeri Melayu menyatakan bahawa aktiviti melombong itu menjadi amalan hampir keseluruhan masyarakat Melayu. Malah budak-budak Melayu di kampung pedalaman juga melombong di sungai. Terdapat juga catatan yang menyatakan orang Melayu dipaksa menjual tanah lombong mereka kepada Syarikat Eropah. Banyak lagi sebenarnya fakta-fakta menarik yang saya jumpa sepanjang kajian saya. Semuanya saya kumpulkan dalam kertas kajian di dalam jurnal tersebut.

Tajuk ini sememangnya dekat di hati saya. Saya pernah membentangkannya di Seminar Kebangsaan Sejarah Sosioekonomi Malaysia, 1874-1990 (SKSSM 2024) anjuran Bahagian Sejarah, Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan, USM. Saya sebenarnya hendak mengangkatnya sebagai tajuk disertasi akhir saya. Namun saya merasakan masa yang diperuntukkan dalam disertasi terlalu singkat untuk saya menyiapkannya. Maka saya terbitkan dapatan awal saya di dalam jurnal MJHA dengan harapan satu hari nanti, mungkin akan ada pengkaji yang mampu mengkajinya dengan lebih dalam dan mungkin menghasilkan tesis sarjana atau monograf. Saya merasakan sejarah kita memang masih banyak belum digali, ia masih menunggu pengkaji yang bersungguh-sungguh, passionate, dan setia.

Kajian ini saya abadikan buat arwah atuk saya, Syed Mohd Jiplus, pelombong Melayu yang sumbangannya hilang dari historiografi.

Syed Ahmad Fathi Bin Syed Mohd Khair
Syed Ahmad Fathi Bin Syed Mohd Khair

Author of several books including Berfikir Tentang Pemikiran (2018), Lalang di Lautan Ideologi (2022), Dua Sayap Ilmu (2023), Resistance Sudah Berbunga (2024), Intelektual Yang Membosankan (2024), Homo Historikus (2024), DemokRasisma (2025), dan Dari Orientalisma Hingga ke Genosida (2025). Fathi write from his home at Sungai Petani, Kedah. He like to read, write and sleep.

independent.academia.edu/SyedAhmadFathi

Filed Under: Rencana Tagged With: Bijih Timah, historiografi, Pelombong Melayu, Perak, Southern Kinta Consolidated Ltd, Syed Mohd Jiplus

Anak-Anak Kebuluran di Gaza: Neo-Orientalis & Kepalsuan Institusi Islam Moden

July 26, 2025 By Syed Ahmad Fathi Bin Syed Mohd Khair

Ketika anak-anak Gaza mati kebuluran disebabkan kepungan Zionis dan talibarut pemimpin Arab, kita merasakan satu desakan akan keperluan institusi Islam yang dikatakan agung seperti al-Azhar dan Ummul Quro untuk mendesak pemimpin mereka membuka kepungan dan membenarkan anak-anak ini mendapat makanan. Namun ulamak neo-orientalis yang menduduki takhta akademik ini gagal melaksanakan tanggungjawab mereka. Maka kita fahami bahawa institusi-institusi ini adalah institusi palsu. Sekadar perabot imperialisme berlakon sebagai institusi Islam.

Pakaian kealiman mereka itu hanya palsu. Jubah dan fez merah mereka itu seharusnya dibuang ke longkang sahaja apabila anak-anak Gaza yang mati kering kebuluran itu dibiarkan tanpa ada fatwa yang boleh dikeluarkan untuk menyelamatkan mereka. Memalukan. Elok mereka pakai tshirt sahaja.

Kita tertanya, siapa yang lebih radikal? Siapa yang lebih radikal sebenarnya? Syed Qutb yang menolak sistem jahiliyah atau sheikh al-Azhar yang membiarkan anak Gaza mati kering kebuluran? Kalau betul Al-Azhar itu institusi Islam, dia akan desak Mesir buka sempadan. Bukan bersekongkol dengan pemimpin zalim Mesir menutup sempadan Rafah dan menghalang umat Islam yang ingin membantu.

Kenapa Umat Islam Lemah?

Kita lemah kerana kita menghantar anak-anak kita belajar di institusi yang salah seperti Al Azhar dan Ummul Quro. Umat yang lemah dan pemimpin yang penakut itu lahir dari ulamak-ulamak yang palsu. Kita perlu berhenti menghantar anak-anak belajar di institusi Islam palsu ini. Kita kena hantar anak-anak belajar dengan ulamak yang benar, misalnya seperti Ali al-Qaradaghi. Walaupun beliau merupakan produk al-Azhar beliau adalah ilmuan yang benar, sedang al-Azhar institusi lamanya telah menjadi korup dan talibarut kepada zionis.

Anak-Anak Gaza Dan Tulang Mereka

Mesir sepatutnya sudah lama membuka sempadan mereka. Apabila mereka menghalang rombongan umat Islam yang mahu menghantar makanan, kita tahu mereka khianat. Rakyat Mesir juga tahu, sebab itu ada yang mengunci kedutaan mereka sendiri di luar negara tanda protes. Ulamak yang tidak bersuara juga khianat, walaupun mereka mengaku mereka ilmuan “Islam” yang suci dan agung. Tipu, palsu.

Murid dan penyokong kepalsuan ini melompat bagai kera yang kepanasan punggung apabila perkara ini disebut dan diperkatakan. Namun apa yang aneh? Imej anak-anak Gaza yang mati kelaparan tidak menggegarkan punggung mereka. Anak-anak ini mati, mereka tidak bersuara. Ulamak mereka tak bersuara. Bila dikritik kebisuan mereka. Pup! Pungung mereka terbakar.

Lihatlah akaun dan media sosial mereka. Ada mereka kisah dengan anak-anak Gaza yang mati kelaparan? Apa yang mereka kongsikan hari-hari? Kemarahan mereka palsu sahaja.

Mereka tak pernah kongsi kesengsaraan anak-anak Gaza yang tinggal tulang! Senyap! Bila kritik ulamak mereka! Pup! Tiba-tiba punggung mereka bergerak. Bagus, biar punggung mereka terbakar di dunia, harap punggung itu nanti selamat di akhirat!

Bila kita mengkritik institusi dan ulamak palsu ini, ada yang menyatakan kita merupakan pemikir palsu. Kita mengaku satu perkara! Demi Allah, kita memang pemikir palsu. Malah, hendak mengaku sebagai pemikir depan Allah pun kita malu.

Tapi!

Cuba lihat media sosial pengkritik kita ini yang kononnya pemikir agung umat. Adakah dia ada berkongsi satu sahaja gambar anak Gaza yang kebuluran? Tak perlu seratus, satu pun jadi. Satu pun tiada? Mengapa? Sebab mereka ini kononnya mahir berfalsafah, konon peminat ilmu, namun anak-anak Gaza yang mati kebuluran itu sedikit pun mereka tidak kisah. Benarkah ilmu mereka ini? Falsafah apa ini yang membiarkan anak-anak mati kebuluran?

Tidaklah Satu Yang Aneh

Tidaklah satu yang aneh apabila seseorang yang dahulunya beriya-riya mempertahankan sarjana kolonial menuduh orang yang bersuara agar anak-anak Gaza dibenarkan makan sebagai ekstrem dan radikal. Orang yang sama itu juga dulu mencaci As-Shahid Ismail Haniyeh dan keluarganya. Tidak aneh juga orang yang mengaku Al Azhar itu kiblat ilmunya tanpa segan silu memperaga gambar perempuan bogel sebagai banner profile Facebooknya. Kerana kita kenal minda yang akarnya adalah kolonialisme dan orientalisme.

Penentangan kepada penjajahan akan sentiasa dituduh sebagai radikal dan ekstrem. Ulamak yang membisu membiarkan anak-anak lapar dikatakan agung dan suci. Bagi yang membaca sejarah, mereka akan menjumpai perkara ini berulang-ulang. Mereka akan menangis berkali-kali mengenang nasib umat yang selalu kalah dan akan cuba mahu mengubahnya. Kita mahu ulamak bersuara, menggunakan ilmu mereka agar mendesak pemimpin membuka kepungan, kita akan dicop radikal. Itu terlalu biasa. Sedikit pun ia tidak patut memudarkan keazaman kita untuk terus bersuara agar anak-anak Gaza diberi makanan.

Dr. Burhanuddin al-Helmy antara ilmuan awal yang sangat hebat kritikannya kepada penjajahan Israel ke atas Palestin. Biografinya sangat mengasyikkan. Beliau pernah menziarahi Palestin semasa hidupnya. Pulang ke Tanah Melayu, beliau aktif menyedarkan bangsanya untuk merdeka dari penjajahan British. Maka tidak hairanlah jika kita membaca catatan British (dan juga catatan sarjana tempatan yang mencedok idea British), beliau dipaparkan sebagai radikal dan ekstremis. Namun tetap idea dan perjuangan beliau terus subur. Pejuang itu hanya akan diiktiraf selepas menang, atau selepas mereka sudah mati.

Maka tidak hairan bila orang yang berfikiran kolonial menuduh kita radikal atau ekstremis. Kalam mereka tiada bezanya dengan tuduhan penjenayah seperti Benjamin Netanyahu yang menuduh pejuang pembebasan Gaza sebagai pengganas. Mereka dari aliran pemikiran orientalis yang sama. Kita harus melihat mereka sebagai debu sahaja di tapak kasut kita.

Maka itu tidaklah aneh bagi kita.

Tangisan Anak-Anak Kelaparan Di Syurga

Umat Islam itu besar sekali kuasa dan pengaruhnya meski pun mereka tidak duduk di kerusi takhta, jika mereka menyedarinya. Jika mereka berdehem sekali pun, akan bergegar kerusi penjajah taghut dan penyokong mereka. Sebab itu setiap kali umat mengangkat suara, mereka akan disuruh diam. Mereka yang bersuara itu digelar ekstrim dan radikal. Mereka akan dimaki “hingaq” dan “useless”.

Tetapi mana mungkin orang Islam yang diberi nikmat iman itu diam ketika anak-anak Gaza mati kebuluran. Air mata mereka tetap juga akan terbit dan mengalir melihat sungai darah saudaranya yang mengalir deras. Dia hanya menipu dirinya sendiri jika dia cuba menutup hatinya dari bersedih. Tangisan anak-anak kelaparan tetap akan bergiang dalam hati mereka. Ketika mereka makan dan tidur. Itu anugerah Allah pada mereka.

Maka ketika pseudo-intelektual pro-kolonial dan berminda orientalis menyuruh kita diam sahaja melihat anak-anak kita mati dibakar dalam lapar, iman kita akan sentiasa menjerit dan memberontak. Tangisan lapar anak-anak ini menggegarkan langit, tetapi kita disuruh jangan “hingaq”. Jangan menjadi suara anak-anak lapar. Jangan percaya iman di hati kita yang mengasihi mereka.

Betulkah kita mampu membuka pintu syurga dengan meninggalkan tangisan anak-anak kelaparan yang mati kering ini?

Syed Ahmad Fathi Bin Syed Mohd Khair
Syed Ahmad Fathi Bin Syed Mohd Khair

Author of several books including Berfikir Tentang Pemikiran (2018), Lalang di Lautan Ideologi (2022), Dua Sayap Ilmu (2023), Resistance Sudah Berbunga (2024), Intelektual Yang Membosankan (2024), Homo Historikus (2024), DemokRasisma (2025), dan Dari Orientalisma Hingga ke Genosida (2025). Fathi write from his home at Sungai Petani, Kedah. He like to read, write and sleep.

independent.academia.edu/SyedAhmadFathi

Filed Under: Rencana

Neo-Orientalism

July 26, 2025 By Editor The Independent Insight

Since the publication of Edward Said’s seminal work Orientalism (1978), the concept of Orientalism has remained central in discussions about the West’s representations of the East. Orientalism refers to the constructed, often patronising depiction of Eastern societies as static, exotic, backward, and inferior to the rational, progressive West. However, with the evolution of global power dynamics, especially in the post-Cold War and post-9/11 era, a reconfiguration of these orientalist frameworks has emerged. This development is often referred to as neo-Orientalism. This essay explores the nature, characteristics, and implications of neo-Orientalism, highlighting how it differs from classical Orientalism and how it continues to shape Western knowledge, policy, and culture in the 21st century.

Defining Neo-Orientalism

Neo-Orientalism refers to the contemporary reproduction of orientalist narratives in a new geopolitical and media landscape. While classical Orientalism operated largely through colonial discourses and academic institutions, neo-Orientalism finds expression in mass media, pop culture, think tanks, humanitarian discourse, and global security paradigms. It continues to essentialise the East—particularly the Islamic world—but often under the guise of liberal values such as democracy, women’s rights, secularism, and human rights.

Importantly, neo-Orientalism is not merely a repetition of older tropes; it adapts to contemporary anxieties and global shifts. After the fall of the Soviet Union, Islam replaced communism as the West’s primary ideological “Other”. The events of 9/11 and the subsequent “War on Terror” further intensified neo-orientalist narratives, casting Muslim societies as inherently violent, irrational, and in need of Western intervention or reform.

Key Features of Neo-Orientalism

  1. Secular-Liberal Framing: Neo-Orientalist discourses are often couched in the language of liberalism. Instead of overt colonial rhetoric, they promote a “civilising mission” through democracy promotion, gender rights, and liberal education. For example, the occupation of Afghanistan was frequently justified in Western media as a campaign to liberate Afghan women, ignoring the broader context of foreign occupation and local agency.
  2. Internalisation by Native Informants: One of the striking features of neo-Orientalism is its reliance on native voices who confirm Western views about their own societies. These “native informants”—intellectuals, activists, or exiles—are often celebrated for criticising their home cultures but rarely afforded space to critique Western imperialism. This strategy lends legitimacy to neo-orientalist narratives and obscures the power imbalance in the production of knowledge.
  3. Hyper-visibility of Islam: While classical Orientalism focused on a broader range of Asian and Middle Eastern cultures, neo-Orientalism is primarily concerned with Islam and Muslims. Muslims are scrutinised as potential threats, whether through discourses on terrorism, Sharia law, or the “clash of civilisations”. This often manifests in securitisation, surveillance, and policies targeting Muslim populations, both abroad and within Western societies.
  4. Technological and Cultural Domination: Neo-Orientalism is disseminated through globalised media—Hollywood, news outlets, streaming platforms, and social media—which shape public perceptions. Films and TV shows often depict Muslim-majority countries as dangerous, chaotic, or oppressive, while Western characters play the role of saviours or reformers.

Differences from Classical Orientalism

Whereas classical Orientalism was a product of colonialism and imperial conquest, neo-Orientalism operates in a post-colonial and often neoliberal context. It no longer requires direct rule to assert cultural dominance; rather, it thrives on soft power, discursive control, and economic influence. Furthermore, while classical Orientalism often portrayed the East as alluring and mysterious, neo-Orientalism frequently depicts it as threatening and in need of containment or transformation.

Implications and Critiques

The persistence of neo-Orientalism has serious implications for international relations, immigration policy, and inter-cultural dialogue. It reinforces stereotypes, justifies foreign interventions, and stifles genuine engagement with non-Western epistemologies. Moreover, it impedes efforts to build solidarities across global communities by framing the East/West divide as ontological rather than political.

Critics of neo-Orientalism argue that it masks Western hegemony behind a veneer of liberal concern. For instance, Lila Abu-Lughod questions whether the language of “saving Muslim women” serves more to satisfy Western self-image than to empower the women themselves. Similarly, Hamid Dabashi critiques the role of native informants in sustaining empire through culturally coded compliance.

Conclusion

Neo-Orientalism is a subtle yet pervasive force in today’s global order. While it differs in form and context from its classical predecessor, its core function remains: to maintain a hierarchy between the West and the non-West through representational power. Understanding and challenging neo-Orientalism is essential not only for deconstructing harmful stereotypes but also for envisioning a more equitable and pluralistic global discourse. It requires a critical awareness of how knowledge is produced, who produces it, and in whose interest it circulates.

Golongan-Neo-Orientalis-di-MalaysiaDownload
Editor The Independent Insight

Kami mengalu-alukan cadangan atau komen dari pembaca. Sekiranya anda punya artikel atau pandangan balas yang berbeza, kami juga mengalu-alukan tulisan anda bagi tujuan publikasi.

Filed Under: Rencana Tagged With: Neo-Orientalism

Bagaimana Inggeris membentuk naratif sejarah melalui penulisan?

December 7, 2024 By Mel Van Dyk

Antara sumber sejarah yang terawal dan didokumentasikan dengan baik di negera ini adalah dari sumber penulisan dari golongan kolonial Inggeris. Sumber-sumber ini boleh didapati dalam bentuk laporan, dokumen rasmi kerajaan dan juga jurnal peribadi. Kemajuan Barat dalam penulisan secara tidak langsung membentuk satu naratif sejarah yang digunapakai oleh orang ramai sehingga hari ini. Namun pernahkah kita terfikir mengapa mereka mempunyai rekod yang begitu hebat sejak dari kurun ke-15 sedangkan kita juga pada waktu itu sudah mempunyai sistem penulisan? Berikut adalah berberapa sebab mengapa pihak kolonial Inggeris begitu minat menulis dan merekod jurnal.

Peningkatan tahap literasi dan pendidikan

Pada abad ke-16 dan ke-17, kadar literasi di Inggeris telah meningkat dengan mendadak. Antara faktor utama yang memacu peningkatan ini adalah penemuan mesin cetak pada abad ke-15. Bahan bacaan lebih mudah untuk dicetak dan diakses oleh masyarakat Inggeris. Institusi pembelajaran telah menyelaras buku-buku sekolah dengan lebih mudah dan dengan kos yang lebih murah, melahirkan lebih ramai golongan yang mampu membaca dan menulis. Menulis jurnal pada ketika itu menjadi satu cara untuk mengasah kemahiran literasi.

Amalan keagamaan dan kerohanian

Penulisan jurnal juga menjadi salah satu cara yang diterapkan oleh institusi gereja pada waktu itu untuk tujuan refleksi diri. Golongan-golongan yang berkhidmat di bawah gereja digalakkan untuk merekod perjalanan rohani mereka dalam jurnal peribadi. Ini termasuklah tentang merenung perkembangan moral dan agama, atau pengakuan diri dan disiplin dalam beragama.

Selain itu, golongan Puritan dari fahaman Kristian Protestan memberikan tekanan yang kuat kepada ahli mereka dalam proses introspeksi diri. Bagi mereka, setiap individu perlu menulis setiap kesalahan mereka yang bertentangan dengan aliran agama demi menjamin kesucian jiwa mereka.

Aliran pemikiran dan falsafah

Kebangkitan humanisme dan Renaisans pada abad ke-16 telah menghidupkan kembali minat penulisan klasik dikalangan masyarakat Inggeris. Idea-idea tentang individualisme, subjektiviti dan ekspresi peribadi semakin berkembang, banyak diperbahaskan dalam penulisan-penulisan ahli falsafah Inggeris seperti John Locke dan George Berkeley. Tidak hanya terhad kepada penulis dari Inggeris, antara penulisan yang dibaca dengan meluas pada ketika itu adalah karya seorang ahli falsafah Perancis, Michel de Montaigne yang mana eseinya mempengaruhi pemikiran masyarakat Inggeris untuk mewujudkan penulisan berkonsep eksplorasi diri atau jurnal.

Evolusi dunia sains

Pada abad ke-17, dunia sains mengalami evolusi yang cukup besar di dunia barat. Kaedah saintifik menjadi semakin kukuh dan ramai ahli sains dan pemikir seperti Sir Isaac Newton dan Robert Hooke mula mendokumentasikan penemuan mereka dengan sangat terperinci didalam jurnal mereka. Kaedah merakamkan pemikiran peribadi ini menyumbang kepada tabiat menulis untuk tujuan saintifik. Seiring dengan kemajuan saintifik ini juga, masyarakat diterapkan dengan amalan memerhati dan mendokumentasi sosiobudaya dan alam semula jadi lebih-lebih lagi jika berada di tempat baharu yang dilakukan oleh pihak kolonial di negara kita

Perubahan politik dan sosial

Pada tempoh abad ke-16 dan ke-17, England mengalami kekacauan politik yang besar. Perang saudara yang berlaku pada ketika itu antara Parlimen Long dan Raja Charles I, diikuti pula dengan perang antara Parlimen Rump dan Raja Charles II telah berlarutan selama 9 tahun. Selepas sesi peperangan yang panjang, Revolusi Glorious pula terjadi yang melihatkan penggulingan Raja James II dari takhta England oleh kerabat Orange-Nassau.

Tempoh masa yang kritikal ini membuatkan sesetengah individu merekod segala peristiwa yang berlaku dalam jurnal peribadi masing-masing. Mereka juga mula meluahkan pendapat mereka tentang politik dan perubahan sosial yang berlaku pada ketika itu dalam bentuk penulisan. Ini merupakan satu usaha mereka untuk memelihara peristiwa sejarah yang berlaku kerana penyebaran berita dalam bentuk lisan sangat perlahan dan tidak terjamin keasliannya.

Etika sosial dan golongan intelektual

Masyarakat Inggeris ketika itu telah terpecah dalam beberapa kelompok. Golongan bangsawan dilihat sebagai golongan yang harus dihormati dan intelektual. Menulis jurnal ketika itu menjadi salah satu cara mereka untuk membuktikan status sosial mereka dalam masyarakat.

Dalam pada masa yang sama, golongan wanita pula menjadikan penulisan jurnal sebagai cara mengekspresikan diri kerana peluang pendidikan formal dan peluang kerjaya profesional sering ditutup untuk mereka. Dengan menulis jurnal, golongan wanita ini merasakan mereka lebih bebas untuk mencurahkan pendapat dan menyebarkan pemikiran mereka. Disebabkan itu, lahirnya tokoh sastera dikalangan wanita seperti Anne Bradstreet dan Lady Mary Montagu.

Mel Van Dyk

Part time independent writer and podcaster from Sarawak, Malaysia.

Filed Under: Rencana

Nota Wacana Kerancuan Falsafah Barat

November 24, 2024 By Syed Ahmad Fathi Bin Syed Mohd Khair

Penulisan nota ini merupakan tulisan dan hadaman saya kepada diskusi Wacana Kerancuan Falsafah Barat yang berlangsung pada 23 November 2024 di Universiti Teknologi Malaysia, Kuala Lumpur anjuran Pusat Kajian Pemikiran dan Peradaban Ummah (PEMIKIR). Ia bukanlah transkrip verbatim kepada perbincangan yang telah berlangsung. Ia juga tidak merangkumi segala yang diperkatakan secara syumul dan menyeluruh, ada bahagian dalam perbincangan yang tidak dirakamkan mungkin kerana penulis terleka, termenung atau sedang micro-sleeping. Nota-nota ini juga mengandungi huraian penulis yang telah dicampur adukkan dalam usaha penulis untuk cuba memahami maudhuk kompleks yang diperbahaskan oleh para pembentang. Untuk tujuan kejelasan, bahagian yang ditokok-tambah oleh penulis akan dimulakan dengan kata “saya”. Pada mulanya tokok tambah ini dimuatkan di dalam teks, tapi untuk mengelak kekeliruan berpanjangan sehingga beratus tahun akan datang, kebanyakannya telah dipindahkan ke nota kaki. Nota ini tidak boleh dianggap sebagai kata-kata asal yang datang dari pembentang. Untuk mengetahui apakah kata-kata asal pembentang, para pengkaji disarankan untuk merujuk kepada video rakaman wacana.[1] Di akhir nota ini, penulis akan merakamkan rumusan penulis sendiri, rumusan yang dimuatkan bukanlah rumusan yang dibuat oleh pihak penganjur atau pembentang, tetapi adalah hasil hadaman penulis nota ini. Akhirul kalam, moga nota ini sedikit sebanyak menyumbang kepada khazanah falsafah pemikiran baharu umat akhir zaman.

Pengerusi Majlis

Ustaz Firdaus

Kerancuan falsafah Barat bukan satu perkara yang baharu. Prof. Naquib al-Attas misalnya pernah membahaskan persoalan sekularisme.[2]

Ucapan Pembukaan Majlis

Ustaz Muhammad Firdaus Zalani, Pengarah Pemikir

Generasi pemikir baharu perlu kepada intelectual circle baharu. Perlu reformasi baharu dalam ummah. Abdul Rahman Azzam mengatakan kebangkitan Salahuddin al-Ayubi sebagai sunni revival yang dipelopori dua pemikar besar iaitu Imam Ghazali dan Nizhom al-Mulk. Oleh itu kita melihat bahawa perubahan umat itu mempunyai dasar intelektual. Kita mahu mematangkan pemikiran berdasarkan isu-isu yang dibangkitkan dan isu yang menjalari umat pada hari ini. Tema besar perbincangan wacana kali ini ialah falsafah ilmu. Kita akan cuba simpulkan wacana ini dengan beberapa nota asas.

Kerancuan Falsafah Barat: Satu Penelitian Semula

Ustaz Mohd Suhail Sufian, Felo Pemikir

Peristiwa sejarah yang disepakati ialah penjajahan fizikal, aqidah, dan pemikiran. Persoalannya, selepas penjajahan ini, adakah kita menjadi diri kita yang sebenar? Selepas berlakunya penjajahan, ada golongan yang menerima sepenuhnya pemikiran Barat, mereka ini digelar oleh Amerika Syarikat sebagai moderate Muslim. Ada juga golongan yang menolak sepenuhnya kemasukan pemikiran Barat, dan cuba membangunkan negara mereka dalam satu model yang terpisah, contohnya Taliban di Afghanistan. Tetapi, kita juga tidak dapat menolak kemajuan yang dibawa Barat kepada dunia.

Pendirian Islam mestilah adil. Kita lihat dalam sirah sendiri, Rasulullah tidak menolak semua apa yang ada dalam Arab Jahiliyah apabila beliau datang membawa risalah Islam. Namun, kita tidak boleh juga mengambil semua dari Barat itu secara keseluruhan. Jika kita telan kesemuanya, apakah yang akan terjadi kepada nilai akidah, syari’at dan tasawwur Islam? Persoalan yang perlu kita jawab pada hari ini ialah:

  1. Adakah pemikiran Barat ini berdasarkan paksi akal yang mutlak?
  2. Adakah ia lahir dari progres sains sahaja?

Barat melawan gereja dan merasakan manusia boleh menentukan nasib mereka sendiri. Manusia menurut Barat boleh menggunakan “ratio” untuk mengukir takdir mereka. Perkataan yang digunakan ulama’ dalam melabel kekeliruan pemikiran Barat adalah al-tahafut, istilah ini tidak bermaksud kesesatan atau penolakan mutlak. Maka istilah yang lebih adil dalam kita bersifat dengan falsafah Barat juga bukan penolakan tetapi istilah “kerancuan” itu lebih sesuai digunakan, yang mengambarkan adanya kekeliruan dalam pemikiran mereka.

Apakah masalah kemajuan? Antaranya adalah depresi dan kenaikan harga barang, ini adalah masalah yang kita perlu selesaikan dalam kita cuba melahirkan satu pemikiran baharu yang tidak dapat diselesaikan oleh model pemikiran falsafah Barat. Dalam kita menafsir falsafah Barat, kita tidak boleh hanya menggunakan Al-Qur’an dan Sunnah, kerana berlakunya perubahan sejarah dan suasana, kita perlu menggunakan metodologi yang lebih luas dan bersesuaian. Walaubagaimanapun, Al-Qur’an dan Sunnah akan sentiasa dijadikan asas dalam metodologi kita. Ibnu Rushd misalnya, apabila menafsir Aristotle, tafsiran yang dibuat adalah secara keseluruhan, bukan sekadar memilih apa yang dirasakan betul sahaja, di sini kita melihat beliau lebih jujur dari tafsiran Barat yang selektif, metodologi Ibnu Rushd ini adalah satu penghargaan kepada penulis yang ditafsirkannya. Kerancuan falsafah Barat bukan kerana pengunaan akal secara mutlak, tetapi kerana adanya unsur lain seperti Mithraisme. Ada penyelewangan yang menyebabkan ia tidak selari dengan falsafah Islam yang bersepadu.

Kesan Modenisme Terhadap Krisis Nilai Barat

Mohd Nasir bin Mohd Tap, Kolej Dar al-Hikmah

Perbentangan ini adalah berdasarkan petikan dari buku Sekularisasi: Dari Kematian Tuhan ke Kematian Insan.[3] Lazimnya, apabila disebut moden, ia adalah satu fenomena yang diukur dengan kemajuan material. Permasalahan asas dalam moral adalah keadilan dan kezaliman, antara kezaliman terbesar adalah syirik kepada Allah. Kezaliman ini membawa bencana kepada hubungan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitar. Barat pada asalnya memiliki agama, pada peringkat primitif ia bersifat animisme dan dinamisme. Dari semangat ia berkembang kepada kepercayaan polytheisme dan kepercayaan dewa-dewi menurut John B. Taylor. Kepercayaan Barat kemudian berkembang lagi selepas Council of Nicaea, di mana agama Kristian menguasai Eropah. Namun agama ini mendapat kritikan daripada orang-orang Yahudi dan Islam. Kemudian lahir pula kritikan dari dalam Kristian sendiri seperti Martin Luther. Selain itu, wujud juga kritikan ahli sains dan falsafah yang merasakan konsep triniti sebagai tidak logik.[4]

Penghakisan kepada kepercayaan agama di Eropah disebabkan oleh sikap institusi gereja yang bersifat dogmatik. Gereja mendogmakan fahaman sains, padahal asalnya ia adalah fahaman yang berdasarkan kajian dan eksperimen. Auguste Comte dalam menyifatkan kehilangan agama mengatakan berlakunya perubahan dari tafsiran agama kepada tafsiran falsafah. Kemudian wujud pula idea penolakan Tuhan seperti yang ditulis oleh Voltaire dan dilihat dari munculnya idea kematian Tuhan oleh Nitzche, dari “power of will” kepada “will of power”. Hujungnya adalah peninggalan agama, tiadanya nilai yang tsabit, semuanya adalah subjektif, apa yang disebutkan sebagai zaman post-modernisme.  Juga wujudnya fahaman seperti positivisme yang  menganggap apa yang benar adalah apa yang boleh diukur dan dicerap sahaja.

Perlunya Dimensi Teknokratik Bagi Membendung Kesan Reduksionisme Liar

Prof. Madya Dr. Mohamad Fakri Zaky Ja’afar, UPM

“The Great Chasm” atau jurang besar sebenarnya berlaku juga dalam bentuk diri kita sendiri dalam peringkat individu. Jika dalam kajian keselesaan dalam bangunan, keselesaan itu dipecahkan kepada suhu, kelembapan, aliran udara, pakaian – ini adalah kaedah saintisme yang bersifat reduksionis.[5] Tetapi manusia ada kebolehan adaptif. Manusia bukan mesin seperti yang difahami oleh pemikiran atomistik dan mekanistik.

Reduksionisme hanya mengukur perkara yang boleh diukur. Sains merupakan salah satu cara untuk mencari kebenaran, tetapi saintisme merupakan ideologi yang mengatakan sains adalah satu-satunya cara untuk mencapai kebenaran dan menolak metodologi lain. Reduksionisme adalah salah satu cara fikir yang relevan, namun apabila ia tidak bertuan dan tidak bertuhan, ia boleh menjadi satu bentuk keganasan dan bersifat liar.

Metod reduktionisme ini boleh kita lihat dalam aplikasi harian, Blooms taxonomy misalnya, yang memecahkan pencapaian manusia kepada domain-domain yang berasingan. Apabila diaplikasikan dalam pendidikan, ia melahirkan manusia yang tidak menyeluruh. Kita juga boleh melihat kepada apa yang disebut sebagai Mac Namara fallacy, di mana polisi dibuat berdasarkan nombor-nombor tanpa mengambil kira keadaan setempat dan strategi semasa. Masalah masyarakat tidak boleh diselesaikan dalam kepakaran-kepakaran yang terpisah tetapi mesti ada penyatuan dalam satu design thinking. Perlu kembalikan penulisan esei dan buku di universiti, kerana ia dalam sejarah berjaya menjentik dan menyentuh manusia.[6]

Saintisme Dalam Pembentukan Konsep Kebenaran Barat

Dr. Muhammad Ikhwan Azlan, UIS

Apakah definisi Barat? Satu pandangan alam tertentu berdasarkan satu proses sejarah. Walaupun dalam sejarah Barat mereka berseteru dengan Islam, ia juga dalam beberapa ketika mempunyai hubungan harmoni dengan Islam di beberapa tempat. Universiti kita juga sebenarnya dari Barat, walaupun ada institusi universiti Islam kuno, kerana rangka dan falsafahnya telah berbeza. Memahami masalah adalah sebahagian dari penyelesaian.

Barat juga tidak statik, mereka sentiasa re-invent itself. Dalam tradisi turath, tiada konsep pembahagian epistemologi kepada konsep correspondence, coherance, atau pragmatic. Banyak tokoh-tokoh Barat sebenarnya lahir dari institusi, mereka mempunyai patron. Barat juga mempunyai tradisi humanities yang kuat, dan Bible Studies mereka adalah antara bidang kajian terbesar dalam universiti mereka. Sains juga memerlukan imaginasi dan ia kadang kala dipandu oleh fiksyen. Pengislaman ilmu bukan bermaksud mengislamkan komputer, tetapi mengislamkan akal, yang merupakan unsur rohani, mengembalikan akal alam pemikiran Islam.[7]

Sesi Diskusi, Kritik Balas dan Soal Jawab

Prof. Madya Dr. Saiful Akram Che Cob

Kerancuan seolah memberi satu konotasi negatif terhadap falsafah Barat. Imanuel Kant dalam mengkritik akal budi mengatakan “wahyu menang total tatkala akal kalah mutlak”. Ada sumbangan Barat yang tidak boleh kita nafikan.

Dr. Ikhwan Azlan

Bagaimana kita hendak meng-Islam-kan semula pandangan alam (worldview)? Pandangan alam ini adalah berdasarkan akal, yang kadang kala disebut sebagai aksiom, cara kita memahami realiti. Barat bukan merujuk kepada masyarakat dan geografi, tetapi satu pemikiran tertentu. “Barat” digunakan sebagai label sahaja. Kita kena fahami semula bagaimana pandangan Islam terhadap alam. Kita juga perlu akui Barat kuat daya self-criticsim, yang perlu kita contohi.

Ustaz Suhail Sufian

Dalam kita melihat perbezaan-perbezaan pemikiran perihal ilmu yang kita rasa berlainan dan berlawanan antara satu sama lain, sebenarnya “hanya orang kurang ilmu sahaja kata lain”. Ini kita dapat lihat dalam aliran pemikiran Islam sendiri, Muktazilah misalnya merupakan frontliner dalam sejarah Islam melawan Kristian. Muktazilah mengatakan bahawa akidah Kristian merupakan satu yang mustahil mengikut akal. Dalam Al-Qur’an sendiri kita disuruh melihat alam. Salah faham kita pada konsep ilmu itu menyebabkan kita merasakan ia rancu. Sintesisnya adalah kepada falsafah ilmu. Kita akan adil pada Barat berbanding Barat terhadap diri mereka sendiri jika kita memahami falsafah ilmu sebenar.

Mohd Nasir bin Mohd Tap

Kita tidak mengikut Al-Qur’an jika kita merendahkan akal, kerana Al-Qur’an tidak merendahkan akal bahkan meninggikan akal. Akal ada hijabnya seperti yang disebut oleh Ibnu Qayyim, contoh hijab-hijab akal adalah syahwat dan kekeliruan. Muktazilah selalu disebut secara negatif sahaja, walhal ia hanya berkuasa pada tempoh singkat belasan tahun sahaja. Teori atom sebenarnya ada dalam Islam dengan tafsirannya sendiri, jadi perlu dibawa semula pengajian ilmu kalam. Kita boleh belajar misalnya dari Hassan Hanafi di Mesir tentang bagaimana kita mahu menilai Barat.

Rohaizir Abdul Rais, Pengasas Sekolah Islam Nur Al-Azhar, Port Dickson

Pelajar yang didedahkan kepada falsafah melahirkan pemikiran yang berbeza. Sains diajarkan pada peringkat awal, tanpa diketahui adanya ideologi dan falsafah Barat didalamnya oleh guru-guru yang mengajarkan sains itu. Falsafah juga perlu diajarkan kepada pelajar pada peringkat awal bagi membantu mereka menapis falsafah yang salah ini. Islamization of Knowledge itu akan menjadi dalam bentuk tempelan sahaja jika falsafah Islam itu tidak dibawa sekali dalam pendidikan.

Dr. Imran, Ahli Fizik, Universiti Malaya

Sejak Decartes, pemisahan manusia dan alam menjadi mutlak, ia diperkuatkan lagi oleh Kant. Isu falsafah hari ini menjadi isu seputar kebebasan buat manusia. Perlu mengembalikan peranan insan dalam ilmu.

Saudara Aqil

Masalah pemikir Islam, kita hanya tunjuk kerancuan pemikir dalam pemikiran Barat, tetapi kita tidak tunjuk bagaimana falsafah Barat itu contadict dengan aksiom mereka sendiri. Misalnya enlightment itu sendiri bersifat self-contradictory terutamanya dalam persoalan kebebasan.

Rumusan Oleh Para Pembentang

Dr. Muhammad Ikhwan Azlan

Self-criticism Barat tidak sampai kepada mereka menolak keseluruhan worldview mereka. Persoalan yang perlu kita rungkai adalah bagaimana kita hendak berdepan dengan Tamadun Saintifik pada hari ini? Universiti Islam dalam erti kata sebenar itu sendiri belum terjelma, kerana kita sendiri tidak faham apa yang al-Attas gagaskan.

Prof. Madya Dr. Mohamad Fakri Zaky Ja’afar

Memang penting kita mengulas dalam pemikiran dalam domain falsafah, namun perlu juga kita berbahas dengan golongan teknokrat, saintis, dan teknologis, kerana mereka yang akhirnya akan melaksanakan falsafah ini dalam susunan kehidupan harian. Jika tidak, seratus tahun lagi kita akan membahaskan benda yang sama.

Mohd Nasir bin Mohd Tap

Islam sudah deal dengan tamadun luar sejak sekian lama. Kita tidak boleh jadi seperti golongan tradisionalis yang menjadikan Barat seperti mambang yang perlu kita jauhi, kita juga tidak boleh peluk, cinta, dan menyatu dengan falsafah Barat. Tetapi kita perlu menilai mereka dengan adil.

Ustaz Mohd Suhail Sufian

Jika kita keluar dengan 10 pandangan yang berbeza, maka itu adalah perkara yang biasa. Kita mahu wujudkan satu platform tempat kita boleh bincangkan topik yang taboo. Untuk lahirkan pemikiran baharu kita mesti berani bincangkan topik-topik yang dihindari. Siapa yang menanam pokok, dia akan dapat manfaat selagi pokok itu berbuah. Pokok yang paling bertahan lama adalah falsafah.

Rumusan Kepada Nota

Saya telah salin dan huraikan dengan ringkas sedikit sebanyak isi perbahasan yang dikeluarkan oleh pembentang dan pendiskusi dalam wacana ini. Di bahagian rumusan ini, saya mahu mengeluarkan pandangan sesuka hati saya sahaja perihal apa yang saya hadam, faham, dan rasa. Pertamanya, saya ingin merakamkan ucapan terima kasih kepada Ustaz Muhammad Amirul Asyraf bin Ahmad Kamal Zulkhairi yang menjemput saya ke wacana ini, baru saya sedar bahawa di Malaysia juga ada sebenarnya golongan pemikir. Saya sememangnya sudah sekian lama ingin bertemu beliau, akhirnya hasrat ini berjaya direalisasikan melalui wacana ini. Selain Ustaz Amirul, melalui wacana ini, saya juga akhirnya dapat bertemu dengan Dr. Saiful Akram buat kali pertama. Walaupun Dr. Akram banyak menulis dan berbahas dalam lapangan falsafah, saya pertama kali mengenali ranah pemikiran beliau melalui buku sejarah yang ditulis beliau.[8] Walaupun saya tidak pernah bertemu secara peribadi dengan beliau, beliau sudi memberi kata aluan kepada buku saya yang berjudul Lalang di Lautan Ideologi.[9] Setelah sekian lama berutusan di bumi maya, akhirnya dapat juga saya bertemu dengan Dr. Saiful Akram di bumi nyata.

Pada wacana kali ini, saya memilih untuk menjadi pendengar berbanding menjadi pembahas atau pendebat. Memang salah satu metodologi penghasilan ilmu itu adalah melalui kaedah argumentasi.[10] Tetapi saya merasakan ada kalanya metodologi yang lebih sesuai adalah dengan mendengar dan cuba memahami perbahasan. Saya tertarik dengan perbahasan ini kerana saya merasakan konsep sejarah tamadun Barat itu sendiri bermasalah dan mempunyai paradoks. Mauduk ini ada saya bentangkan dalam penulisan saya yang bertajuk Historiografi Astronomi: Paradoks Dalam Pensejarahan Tamadun Barat.[11] Di dalamnya saya ada membawakan beberapa kontradiksi dalam pembentukan sejarah tamadun Barat itu, terutamanya dalam menyoroti akar tamadunnya yang dikatakan bermula dari Mesir Purba dan Mesopotamia, padahal kedua-dua tamadun kuno ini bukan berada di kawasan yang boleh dikatakan sebagai “Barat”. Selain itu, Barat juga banyak mengambil idea sains dan falsafahnya dari alam dunia lain termasuklah alam Islam, dan sering berlaku tidak jujur dalam menyatakan sumber idea mereka. Saya juga bersetuju dengan pandangan Edward Said bahawa konsep “Barat” dan “Orient” ini hanyalah merupakan ciptaan semata-mata.[12] Saya lebih cenderung kepada fahaman bahawa semua tamadun-tamadun ini adalah tamadun yang sama kerana mereka berinteraksi dan saling meminjam antara satu sama lain. Tetapi dalam tamadun yang satu ini, ada aliran fikir yang berbeza. Dalam wacana ini, saya meminati definisi yang dibawakan oleh Dr. Muhammad Ikhwan Azlan yang tidak menyempitkan falsafah Barat itu dalam ruang geografi tertentu, tetapi ia didasari oleh sifat-sifat tertentu.

Dalam isu saintisme, baik dari sudut apa yang dibahaskan di dalam wacana dan juga dari sorotan literatur dalam kertas kerja yang dibekalkan, semuanya dibahaskan dari sudut falsafah. Saya kira terdapat satu buku yang penting yang tidak disentuh oleh mana-mana pembentang. Buku yang saya maksudkan adalah buku yang bertajuk The Science Delusion tulisan Rupert Sheldrake. Buku ini saya rasakan penting dalam membahaskan saintisme kerana ia membahaskan subjek ini dari sudut pandangan ahli sains dan bukan sekadar dari pandangan falsafah. Misalnya dalam apa yang disebut sebagai fundamental constant dalam lapangan fizik. Sheldrake telah membahaskan bagaimana sebenarnya nilai-nilai ini tidak constant jika dibaca melalui eksperimen sebenar, tetapi ia kemudiannya telah disamakan melalui standard yang ditetapkan oleh ahli metrologi. Oleh itu nilai constant fizik yang digunakan bukanlah nilai dari alam realiti, tetapi dari ketetapan ahli metrologi.[13] Buku Sheldarake ini sangat menarik, sebab itulah saya telah memasukkannya dan mengulas panjang tulisan beliau dalam buku saya Intelektual Yang Membosankan.[14] Saya merasakan tulisan Sheldrake adalah bacaan wajib bagi memahami saintisme dan berasa sedikit janggal apabila ia tidak langsung disentuh.

Wacana ini secara keseluruhannya merupakan satu perbincangan yang sangat subur dalam mencambahkan pemikiran. Menjadi pemikir merupakan satu perkara yang dituntut oleh Islam. Ini boleh difahami dari pelbagai ayat Al-Qur’an yang bertanya “tidakkah kamu berfikir?”. Namun harus juga diingat, Al-Qur’an juga sarat dengan ayat-ayat tentang beramal. Seharusnya fikiran kita yang sudah lurus dan bersih akan menghasilkan amal yang lurus dan bersih juga. Setelah dibentangkan tesis dan anti-tesis, saya kira sintesisnya adalah amal kehidupan kita, natijah kejayaan falsafah adalah bertambah baik hubungan sesama manusia dan juga hubungan manusia dengan alamnya. Meminjam kata-kata seorang young Hegelian bernama Karl Marx “The philosophers have only interpreted the world; the point, however, is to change it”.[15] Maka marilah kita beramal dan mengubah dunia kepada yang lebih baik.

Bibliografi

Marx, K. (1969). “Theses On Feuerbach”, First Published: As an appendix to Ludwig Feuerbach and the End of Classical German Philosophy in 1888. Moscow, USSR: Progress Publishers.

Mohd Nasir Mohd Tap. (2019). Sekularisasi: Dari Kematian Tuhan Ke Kematian Insan. Akademi Kajian Ketamadunan.

Said, E. W. (1991). Orientalism: Western Conceptions of the Orient. Penguin Books.

Saiful Akram Che Cob. (2018). Propaganda Visual Pada Era Penaklukan Jepun (1942-1945): Manifestasi Simbolik, Retorik dan Satira Radikal. Kuala Lumpur: Institut Terjemahan & Buku Malaysia.

Sheldrake, R. (2013). The Science Delusion. London: Coronet.

Syed Ahmad Fathi. (2022). Lalang di Lautan Ideologi. Cukong Press.

Syed Ahmad Fathi. (2022). Meninjau Pemikiran Edward Wadie Said Dalam Orientalism: Perihal Konstruksi Barat Terhadap Timur. Sesi Mengopi Bersama JC IIUM.

Syed Ahmad Fathi. (2023). Falsafah Dan Metodologi Argumentasi Socrates. Jejak Tarbiah.

Syed Ahmad Fathi. (2023). Historiografi Astronomi: Paradoks Dalam Pensejarahan Tamadun Barat. Academia Book Review.

Syed Ahmad Fathi. (2024). Intelektual Yang Membosankan. Petaling Jaya: Kenyalang Press.

Syed Hussein Alatas. (2015). Kita Dengan Islam: Tumbuh Tiada Berbuah. Dewan Bahasa dan Pustaka.


[1] Rakaman wacana boleh dirujuk melalui pautan: https://www.facebook.com/pusatpemikirummah/videos/508378678824128

[2] Saya merasakan tarik-tali dan cubaan menapis pemikiran Barat dari pemikiran umat Islam ini merupakan satu proses yang sudah berlangsung begitu panjang. Misalnya jika kita membaca buku tulisan Syed Hussein al-Attas beliau ada membicarakan bagaimana terdapat idea-idea Karl Marx yang baik untuk diambil, tetapi kita tidak boleh menjadi Marxis kerana ada ideanya yang bertentangan dengan Islam. Rujuk Syed Hussein Alatas. Kita Dengan Islam: Tumbuh Tiada Berbuah. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2015.

[3] Mohd Nasir Mohd Tap. Sekularisasi: Dari Kematian Tuhan Ke Kematian Insan. Akademi Kajian Ketamadunan, 2019.

[4] Saya berpandangan, di sini Mohd Nasir Mohd Tap cuba meringkaskan perkembangan kepercayaan Barat dari kepercayaan primitif animisme, kepada agama Kristian, dan kemudian kepada ateisme dan humanisme.

[5] Saya merasakan apa yang disebutkan oleh Mohamad Fakri Zaky Ja’afar ini mirip kepada apa yang ditulis oleh Rupert Sheldrake walaupun dalam bidang kajian yang berbeza. Sheldrake yang mengkaji lapangan biologi merasakan kaedah kajian yang membunuh hidupan, membelahnya, dan manganalisanya dari sudut-sudut yang terpisah merupakan metodologi kajian yang salah. Beliau mengkritik misalnya cubaan manusia mengkaji penyakit dari sudut DNA sahaja dalam Human Genome Project, walaupun berbillion dollar dihabiskan, satu perkaitan antara DNA dan penyakit tidak dapat pun dilakukan. Kerana penyakit bukan hanya dipengaruhi DNA. Lihat tulisannya dalam buku The Science Delusion.

[6] Saya merasakan saranan untuk membudayakan penulisan esei ini merupakan cadangan yang menarik dan jarang saya dengar, kerana saya fikir penulisan juga adalah sebuah proses fikir.

[7] Saya merasakan huraian Ikhwan Azlan ini sangat bagus terutamanya dalam memberikan satu definisi kepada Barat, Barat yang bukan diukur kepada batasan geografi tetapi dari sifat-sifat yang tertentu. Jika sifat itu ada dalam masyarakat Timur, mereka pun boleh dikategorikan sebagai Barat, huraian beliau ini banyak memetik pemikiran Naquib al-Attas. Wajar kiranya huraian ini dicermati dalam rakaman kerana nota ini tidak menangkap keseluruhan huraian beliau.

[8] Buku yang saya maksudkan adalah Propaganda Visual Pada Era Penaklukan Jepun (1942-1945): Manifestasi Simbolik, Retorik dan Satira Radikal. Institut Terjemahan & Buku Malaysia, 2018. Buku ini merupakan buku yang menarik perihal episod sejarah ketika Jepun menduduki Tanah Melayu, banyak juga perkara baharu yang saya belajar dari buku ini terutamanya perihal sosok-sosok nasionalis Melayu yang menyokong Jepun. Ada beberapa penulisan saya yang mana saya memetik idea dari buku ini.

[9] Syed Ahmad Fathi. Lalang di Lautan Ideologi. Cukong Press, 2022 (edisi kemaskini 2023).

[10] Metodologi argumentasi sebenarnya merupakan metodologi penghasilan ilmu sejak zaman kuno. Ini dapat dilihat dalam kaedah penghasilan ilmu dalam masyarakat Yunani misalnya. Rujuk misalnya tulisan saya yang bertajuk “Falsafah dan Metodologi Argumentasi Socrates”. Jejak Tarbiah, 2023.

[11] Syed Ahmad Fathi. “Historiografi Astronomi: Paradoks Dalam Pensejarahan Tamadun Barat.” Academia Book Review, 2023.

[12] Edward W. Said. Orientalism: Western Conceptions of the Orient. Penguin Books, 1991. Huraian panjang saya perihal idea beliau ada saya tulis dalam penulisan yang bertajuk “Meninjau Pemikiran Edward Wadie Said Dalam Orientalism: Perihal Konstruksi Barat Terhadap Timur.” Sesi Mengopi Bersama JC IIUM, 2022.

[13] Rupert Sheldrake. The Science Delusion. Coronet, 2013., hlm. 89-99.

[14] Syed Ahmad Fathi. Intelektual Yang Membosankan. Kenyalang Press, 2024.

[15] Karl Marx. Theses On Feuerbach.

Nota-Wacana-Kerancuan-Falsafah-BaratDownload
Syed Ahmad Fathi Bin Syed Mohd Khair
Syed Ahmad Fathi Bin Syed Mohd Khair

Author of several books including Berfikir Tentang Pemikiran (2018), Lalang di Lautan Ideologi (2022), Dua Sayap Ilmu (2023), Resistance Sudah Berbunga (2024), Intelektual Yang Membosankan (2024), Homo Historikus (2024), DemokRasisma (2025), dan Dari Orientalisma Hingga ke Genosida (2025). Fathi write from his home at Sungai Petani, Kedah. He like to read, write and sleep.

independent.academia.edu/SyedAhmadFathi

Filed Under: Rencana Tagged With: Alam fikir Islam, Atiesme, Falsafah Barat, Falsafah Islam, Reduksionisme, Saintisme, Tamadun, Tamadun Saintifik, Worldview

Menyingkap Misteri Kerajaan Kedah Tua Melalui Kajian Arkeologi

October 15, 2024 By Syed Ahmad Fathi Bin Syed Mohd Khair

Buku Kedah Tua: Sejarah, Arkeologi & Naratif Baharu ini saya kira merupakan satu buku yang menarik yang memperihalkan bukti-bukti dari lapangan kajian arkeologi dalam kita memahami kerajaan kuno Kedah Tua. Kerajaan Kedah Tua merupakan satu kerajaan yang masih misteri kerana banyak sisi-sisi perihalnya tidak diketahui sehingga ke hari ini. Kedah Tua merupakan ketamadunan yang paling awal di Asia Tenggara, ia lebih tua jika dibandingkan dengan Borobudur di Indonesia atau Angkor di Kemboja.[1] Dengan menggunakan kaedah arkeologi, kita boleh membina sedikit gambaran bagi merungkai misteri ini. Arkeologi adalah salah satu kaedah yang boleh digunakan untuk mendapatkan sumber bagi penulisan dan kajian sejarah.[2] Penulisan perihal sejarah kuno ini saya kira penting, persis apa yang pernah ditulis oleh al-Mas’udi, Sang Herodotus Arab, bahawa penulisan sejarah itu adalah usaha untuk menyelamatkan masa lalu.

Dalam memahami sebuah naratif, buku ini telah memberi penerangan tentang apakah yang dimaksudkan dengan naratif. Naratif itu merupakan satu kaedah untuk memberi satu representasi tentang sesuatu fakta dan kajian.[3] Definisi naratif yang diberikan mirip dengan apa yang disebutkan sebagai penyebaban dalam kajian sejarah.[4] Di mana usaha-usaha dilakukan bagi menerangkan sesuatu peristiwa itu secara logikal. Jika sejarah menggunakan bahan-bahan berbentuk tulisan dan lisan bagi membentuk naratifnya, saya berpandangan, arkeologi menggunakan artifak-artifak yang dijumpai bagi membina sebuah kesimpulan. Oleh kerana artifak biasanya tidak memberi penerangan yang terperinci, tafsiran arkeologi condong kepada ekstrapolasi.

Naratif Baharu Perihal Demografi Dan Budaya Masyarakat

Dalam naratif baharu yang cuba dibawa oleh buku ini, Kerajaan Kedah Tua itu tidak hanya tertumpu pada negeri Kedah seperti yang kita fahami hari ini, tetapi meliputi seluruh Pantai Barat Semenanjung Tanah Melayu dengan Lembah Bujang sebagai pusat ekonomi dan populasinya.[5] Berbeza dengan naratif lama yang menafsirkan keseluruhan masyarakat Kedah Tua sebagai masyarakat yang mengamalkan kepercayaan Hindu-Buddha, naratif baharu memecahkan masyarakat kepada beberapa segmen.

Segmen pertama adalah segmen pedagang asing yang mengamalkan ajaran Hindu-Buddha dan juga kepercayaan-kepercayaan lain. Segmen kedua adalah golongan bangsawan dan pemerintah yang menduduki kawasan berdekatan pelabuhan, mereka ini mengamalkan amalan yang dipengaruhi oleh ajaran Hindu-Buddha. Segmen ketiga adalah kaum peribumi yang tinggal di pesisir dan kawasan pedalaman, mereka ini tidak mengamalkan ajaran Hindu-Buddha tetapi mengamalkan kepercayaan asal mereka.[6] Dalam kata lain, naratif baharu yang diketengahkan melihat masyarakat itu dengan keragaman mereka dan tidak membuat satu generalisasi yang simplistik secara keseluruhan.

Permulaan Kerajaan Kedah Tua & Struktur Demografinya

Kerajaan Kedah Tua dianggarkan muncul sekitar kurun ke-2 Masihi, perkara ini dapat ditentukan melalui rekod-rekod China dan India di mana pada ketika itu, kerajaan di Semenanjung Tanah Melayu mula menjalinkan hubungan diplomatik dan hubungan dagang dengan negara luar.[7] Dari kurun ke-2 Masihi sehingga kurun ke-14 Masihi merupakan zaman yang dipanggil sebagai zaman pra-moden atau proto-sejarah.[8] Pada tempoh masa inilah Kerajaan Kedah Tua dianggarkan berlangsung. Menurut Zuliskandar Ramli dalam kajiannya, pelabuhan-pelabuhan telah wujud di Kedah Tua sejak kurun ke-2 Masihi manakala kewujudan sistem raja dalam kerajaan bermula pada kurun ke-5 Masihi.[9]

Selepas berlalunya zaman ini barulah bermulanya zaman moden yang dianggarkan bermula pada penghujung kurun ke-18 Masihi. Semasa zaman moden ini muncul Kerajaan Kesultanan Kedah yang meliputi wilayah-wilayah yang luas termasuklah Phuket, Trang, Setul, Lungu, Perlis, Pulau Pinang dan Kerian.[10] Dinamik politik yang berlangsung selepas itu mengakibatkan wilayah-wilayah ini menjadi negeri tersendiri dan sebahagiannya diserap masuk ke dalam negeri lain. Pada tahun 531 Hijrah bersamaan tahun 1136 Masihi, dicatatkan dalam sumber bertulis bahawa telah datangnya Syeikh Abdullah dari Yaman yang telah mengislamkan raja Kedah pada ketika itu.[11]

Jika dilihat dalam peta yang disertakan di dalam buku Kedah Tua: Sejarah, Arkeologi & Naratif Baharu, Kedah Tua sememangnya merangkumi kawasan yang luas, dari Takuapa hingga ke Beruas.[12] Disebabkan terdapat banyak tinggalan candi, arca, dan prasasti, terdapat pelbagai teori perihal struktur politik Kedah Tua. Pengkaji seperti H.G. Quaritch Wales berpandangan Kedah Tua merupakan koloni India hasil dari kedatangan pedagang dan pelayar dari India.[13] Menurut teori ini, hasil kedatangan yang berterusan ini telah menyebabkan keseluruhan masyarakat di Kedah Tua mengamalkan amalan Hindu Buddha. Pengkaji lain seperti Alaistair Lamb dan beberapa sarjana tempatan pula beranggapan bahawa tinggalan arkeologi tersebut hanya memaparkan kewujudan hubungan budaya dan ekonomi antara masyarakat Kedah Tua dan India.[14] Sebahagian sarjana lain menafsirkan bahawa masyarakat tempatan kekal dengan budaya dan kepercayaan mereka dan tinggalan-tinggalan arkeologi yang dijumpai tersebut adalah tinggalan dari pedagang-pedagang asing yang datang ke Kedah Tua untuk berdagang.[15]

Nasha Rodziadi Khaw dalam buku ini berpandangan bahawa penduduk di Lembah Bujang yang mengamalkan agama Hindu-Buddha adalah golongan bangsawan dan pembesar, mereka juga berkemungkinan mempunyai hubungan yang rapat dengan pedagang dan pelayar yang beragama Hindu dan Buddha. Manakala masyarakat peribumi yang hidup di luar Lembah Bujang tidak terkesan dengan agama ini, mereka terus mengamalkan adat kepercayaan mereka sendiri.[16] Walaupun tafsiran-tafsiran dapat dilakukan menggunakan bukti arkeologi, tafsiran ini bersifat ekxtrapolasi dan tidak konklusif. Ini dapat dilihat dalam huraian-huraian yang dibuat di dalam buku ini yang kebanyakannya berbentuk “kemungkinan”.[17]

Sumber Bertulis Perihal Kedah Tua

Selain sumber arkeologi, sejarah Kedah Tua juga dapat ditelusuri sejarahnya dari sumber-sumber bertulis dari luar. Antaranya adalah syair Tamil kurun ke-2/3 Masihi iaitu Pattinappalai dan Sillappadikaram.[18] Walaupun wujud rekod-rekod bertulis tentang Kedah Tua, ia sangat terhad dari segi bilangan dan skop dan tidak dapat memberi gambaran yang menyeluruh. Rekod-rekod yang ada tidak setanding dengan rekod perihal Kesultanan Melayu Melaka yang lebih banyak dan komprehensif.[19]

Selain sumber dari India, maklumat perihal Kedah Tua juga boleh dijumpai dalam sumber-sumber Arab, antaranya adalah al-Mas’udi yang menulis pada kurun ke-10 Masihi.[20] Ini mengingatkan saya perihal buku beliau yang bertajuk Muruj al-Zahab wa Ma’adin al-Jauhar, terjemahannya ke dalam bahasa Inggeris bertajuk Meadows of Gold and Mines of Gems yang pernah saya baca pada satu ketika dahulu. Versi yang saya baca adalah hasil translasi Paul Lunde dan Caroline Stone.[21] Memang di dalamnya ada diperihalkan tentang Kedah dan juga Kerajaan Sriwijaya. Saya merasakan tulisan al-Mas’udi tersebut sangat penting, kerana ia dapat membantu kita membuat perbandingan sumber bagi mengesahkan fakta-fakta sejarah terutamanya perihal Nusantara dan khususnya perihal negeri Kedah.[22] Dalam sumber-sumber Arab, Kedah disebut sebagai “Kalah”, sebuah negeri yang kaya dengan bijih timah, rempah, dan hasil hutan. Kalah juga disebut sebagai sebuah jajahan takluk bagi Kerajaan Sriwijaya.[23]

Selain dari masalah sumber yang terhad dari segi jumlah dan skop, kebanyakan sumber sejarah perihal Kedah Tua juga bermasalah menurut Nasha Rodziadi Khaw, ini kerana sumber-sumber ini bercampur aduk dengan elemen mitos dan legenda yang belum dapat dibuktikan dengan rujukan silang menggunakan data-data arkeologi.[24] Masalah perihal sumber ini juga sering dibangkitkan oleh para pengkaji lain.[25] Perkara ini bukanlah sesuatu yang ganjil kerana historiografi tradisional tidak sama dengan corak historiografi moden, sumber tradisional tidak mementingkan aspek objektiviti. Kebanyakannya bersifat sastera, hiburan, legenda, dan usaha untuk memaparkan kehebatan nasab keturunan.[26]

Sumber-Sumber Arkeologi Perihal Kedah Tua

Antara sumber arkeologi yang ditemui di tapak-tapak eskavasi Kedah Tua adalah prasasti (inscriptions). Namun prasasti yang dijumpai tidak memberi maklumat yang mencukupi tentang sistem politik, ekonomi dan sosial masyarakat Kedah Tua. Sebaliknya kebanyakan prasasti ini mengandungi mantera-mantera pendek bagi agama Buddha.

Selain prasasti, di Kompleks Sungai Batu banyak ditemui tinggalan tapak peleburan besi. Dari tinggalan ini dapat difahami bahawa Kedah Tua merupakan tempat di mana jongkong-jongkong besi dihasilkan.[27] Kewujudan industri peleburan besi ini konsisten dengan sumber-sumber Arab yang menyatakan bahawa di Kedah Tua wujudnya benkel-bengkel pembuatan pedang.[28]

Terdapat juga penemuan-penemuan artifak dari tamadun luar seperti seramik dari China. Penemuan ini dapat mengesahkan hubungan dagang antara Kedah Tua dengan Tamadun China. Antara seramik yang ditemui adalah dari era Dinasti Tang yang wujud sekitar abad ke-7 hingga abad ke-14 Masihi.[29]

Kesimpulan: Pandangan Umum Perihal Keseluruhan Buku

Walaupun buku ini cuba mengetengahkan naratif baharu, saya kira ada sedikit kekurangan dalam penyampaian naratif ini. Terutamanya kepada pembaca awam yang tidak mengikuti perkembangan arkeologi dengan dekat. Penyampaian yang lebih baik pada pandangan saya adalah menonjolkan dengan jelas terlebih dahulu apakah naratif lama itu, kemudian barulah diketengahkan naratif baharu agar perbezaan naratif ini dapat difahami dan dibandingkan oleh semua pembaca. Buku ini hanya menerangkan apa yang dimaksudkan dengan naratif lama secara seimbas lalu, oleh kerana itu, perbezaan naratif ini tidak begitu menonjol kepada pembaca awam.

Setelah mengamati dan mendalami buku ini kulit ke kulit. Apa yang saya faham perihal naratif baharu ini adalah bahawa terdapatnya perbezaan antara masyarakat yang hidup di tanah dalam dan masyarakat yang hidup di pesisir. Amalan kepercayaan Hindu-Buddha tertumpu kepada masyarakat pesisir manakala masyarakat di kawasan pedalaman terus dengan kepercayaan asli mereka.

Walaupun buku ini merupakan buku yang didasari kajian, saya mendapati ia tidaklah dipersembahkan dengan gaya penulisan akademik yang membosankan, sebaliknya ditulis dengan santai dan mudah difahami. Cuma saya merasakan kadangkala ia terlalu diskriptif dan kurang ulasan dan huraian. Melihat paparan-paparan gambar dalam buku ini juga menimbulkan semacam perasaan masuk ke dalam muzium. Di mana kita bukan membaca sebuah buku, tetapi masuk melihat-lihat barang-barang pameran. Walau apa pun, saya merasakan buku ini tetap sebuah buku yang baik untuk kita memahami misteri sebuah kerajaan kuno yang dinamakan Kedah Tua melalui kajian-kajian arkeologi.

Bibliografi

Adnan Jusoh. (2016). Zaman Pra-Islam di Kedah Berdasarkan Bukti Arkeologi. Perspektif: Jurnal Sains Sosial dan Kemanusiaan 8, no. 1, 106-117.

al-Mas’udi, Lunde (Translator), P., & Stone (Translator), C. (2007). From The Meadows of Gold. Penguin Books.

Nasha Rodziadi Khaw, Nazarudin Zainun, & Suresh Narayanen. (2024). Kedah Tua: Sejarah, Arkeologi & Naratif Baharu. Pulau Pinang: Penerbit Universiti Sains Malaysia & Think City.

Nazrin Rahman, Mokhtar Saidin, Najmiah Rosli, Nor Hidayah Ahmad, & Rosli Saad. (2020). Iron Smelting Industry of Kedah Tua: A Geophysical Mapping for Buried Furnace. Archaeologies 16, no. 2, 168-180.

Noor Syahidah Mohamad Akhir, Syaimak Ismail, Aemy Aziz, & Muhammad Saiful Islam Ismail. (2022). Kedah Tua Sebagai Pelabuhan Kuno Perdagangan Antarabangsa Antara Abad Ke-2M Sehingga 13M: Lambang Ketamadunan Bangsa Melayu. Jurnal Melayu 21, no. 2 , 115-129.

Shukri Janudin, & Zaimilah Yusoff. (2022). Pengkisahan Raja-Raja Kedah Tua Berdasarkan Bukti Dokumentasi dan Arkeologi (630 hingga 1136 masihi). Jurnal Dunia Pengurusan 4, no. 2, 16-32.

Syed Ahmad Fathi. (2023). Menikmati Cebisan Dari Lapangan Emas Al-Mas’Udi Sang Herodotus Arab. Ulasan Buku.

Syed Ahmad Fathi. (2023). Perihal Penyebaban Dalam Sejarah. Nota Pengajian Sejarah.

Syed Ahmad Fathi. (2023). Persejarahan Melayu Tradisional. Nota Pengajian Sejarah.

Zuliskandar Ramli. (2020). Sejarah, Perkembangan Ekonomi Dan Hubungan Antarabangsa Kedah Tua Dari Kurun Ke-2 Hingga Ke-14 Masihi. International Journal of Interdisciplinary and Strategic Studies 1 (1), 58-87.


[1] Nazrin Rahman, Mokhtar Saidin, Najmiah Rosli, Nor Hidayah Ahmad, dan Rosli Saad. “Iron Smelting Industry of Kedah Tua: A Geophysical Mapping for Buried Furnace.” Archaeologies 16, no. 2 (2020): 168-180.

[2] Adnan Jusoh. “Zaman Pra-Islam di Kedah Berdasarkan Bukti Arkeologi” Perspektif: Jurnal Sains Sosial dan Kemanusiaan 8, no. 1 (2016): 106-117.

[3] Nasha Rodziadi Khaw, Nazarudin Zainun, dan Suresh Narayanen. Kedah Tua: Sejarah, Arkeologi & Naratif Baharu. Pulau Pinang: Penerbit Universiti Sains Malaysia & Think City, 2024., hlm. xiii.

[4] Syed Ahmad Fathi. “Perihal Penyebaban Dalam Sejarah.” Nota Pengajian Sejarah, 2023.

[5] Nasha Rodziadi Khaw. Kedah Tua., hlm. xvii.

[6] Ibid., hlm. xx-xxi.

[7] Ibid., hlm. 7.

[8] Ibid., hlm. 13.

[9] Zuliskandar Ramli. 2020. “Sejarah, Perkembangan Ekonomi Dan Hubungan Antarabangsa Kedah Tua Dari Kurun Ke-2 Hingga Ke-14 Masihi”. International Journal of Interdisciplinary and Strategic Studies 1 (1):58-87.

[10] Nasha Rodziadi Khaw. Kedah Tua., hlm. 17.

[11] Ibid., hlm. 98-99.

[12] Ibid., hlm. 38.

[13] Nasha Rodziadi Khaw. Kedah Tua., hlm. 25.

[14] Ibid., hlm. 27.

[15] Ibid., hlm. 29.

[16] Ibid., hlm. 62-63.

[17] Lihat misalnya huraian tentang sistem politik Kedah Tua. Rujuk Nasha Rodziadi Khaw. Kedah Tua., hlm. 66.

[18] Nasha Rodziadi Khaw. Kedah Tua., hlm. 77.

[19] Ibid., hlm. 88.

[20] Ibid., hlm. 107.

[21] al-Mas’udi, Paul Lunde, dan Caroline Stone. From The Meadows of Gold. Penguin Books, 2007.

[22] Syed Ahmad Fathi. “Menikmati Cebisan Dari Lapangan Emas Al-Mas’Udi Sang Herodotus Arab.” Ulasan Buku, 2023.

[23] Nasha Rodziadi Khaw. Kedah Tua., hlm. 109.

[24] Ibid., hlm. 116.

[25] Lihat misalnya tulisan Shukri Janudin dan Zaimilah Yusoff. “Pengkisahan Raja-Raja Kedah Tua Berdasarkan Bukti Dokumentasi dan Arkeologi (630 hingga 1136 masihi).” Jurnal Dunia Pengurusan 4, no. 2 (2022): 16-32.

[26] Syed Ahmad Fathi. “Persejarahan Melayu Tradisional.” Nota Pengajian Sejarah, 2023.

[27] Nasha Rodziadi Khaw. Kedah Tua., hlm. 206.

[28] Ibid., hlm. 109.

[29] Noor Syahidah Mohamad Akhir, Syaimak Ismail, Aemy Aziz, dan Muhammad Saiful Islam Ismail. “Kedah Tua Sebagai Pelabuhan Kuno Perdagangan Antarabangsa Antara Abad Ke-2M Sehingga 13M: Lambang Ketamadunan Bangsa Melayu.” Jurnal Melayu 21, no. 2 (2022): 115-129.

Menyingkap-Misteri-Kerajaan-Kedah-Tua-Melalui-Kajian-ArkeologiDownload
Syed Ahmad Fathi Bin Syed Mohd Khair
Syed Ahmad Fathi Bin Syed Mohd Khair

Author of several books including Berfikir Tentang Pemikiran (2018), Lalang di Lautan Ideologi (2022), Dua Sayap Ilmu (2023), Resistance Sudah Berbunga (2024), Intelektual Yang Membosankan (2024), Homo Historikus (2024), DemokRasisma (2025), dan Dari Orientalisma Hingga ke Genosida (2025). Fathi write from his home at Sungai Petani, Kedah. He like to read, write and sleep.

independent.academia.edu/SyedAhmadFathi

Filed Under: Rencana Tagged With: arkeologi, History, kedah tua, Malaysia, sejarah, usm

Environmental History: A Malaysian Personal Reflection

May 8, 2024 By Syed Ahmad Fathi Bin Syed Mohd Khair

Introduction

Traditional history has been heavily focused on documenting wars and human conflicts as history gradually asserts itself to be a specialized field in documenting human affairs. These can be seen, for example, in the early work of historians such as Herodotus, who gave us an account on the Greco-Persian Wars using oral sources as his main materials to construct his writing.[1] But since Herodotus, history as a field has evolved in its methodologies and scope. No longer is history confined to the narrow subject of human conflicts. It has proliferated and covers a wider scope of human activities, including economics, social aspects, education and others.

Recently, I was introduced with another branch of history called environmental history in a special lecture by David Biggs, a visiting professor at Universiti Sains Malaysia (USM), Penang from the University of California, Riverside, US, with a Ph.D in history with concentrations in modern Southeast Asia.[2] The lecture was refreshing as Biggs explored how we can study the effect of human activities on the environment, recording the changes and make sense of it. I did some pre-reading before the lecture and understood that Biggs had done some research in Vietnam on the impact of the Indo-China War on the population.[3] This led me to wonder whether Biggs had studied the effect of Agent Orange, a chemical compound used by the US troops in their war in Vietnam.[4] We discussed this topic in the question-and-answer session, which I find very fulfilling.

After the lecture, I was interested to read more about this topic and contacted Professor Biggs to ask whether he brought with him some of his books in physical copy. I had a hard time reading lengthy materials electronically, especially with two kids around the house. The day after the lecture, I dropped by his office in USM to discuss further on the lecture’s topic. To my surprise, it was a splendid discussion that lasted more than 2 hours. We discussed topics from the Mekong River up to the world of academia in California. Although I did not manage to get the book that I intended, Professor Biggs gracefully lent me another book, titled Ways of Being: Animals, Plants, Machines: The Search for a Planetary Intelligence written by James Bridle. To this book I will cast my focus next.

Ways of Being

The book started at Epirus, Greece, where the global oil giant, Repsol SA, was using artificial intelligence (AI) to exploit the oil reserves located beneath the soil of the forest and villages. Bridle contended that the use of the word “intelligence” is somewhat ironic, as he cannot fathom the effect that this intelligence will have on the environment.

What sort of intelligence actively participates in the drilling, draining and despoliation of the few remaining wildernesses on earth, in the name of an idea of progress we already know to be doomed? This is not an intelligence I recognize.[5]

I very much agreed with Bridle on this; for too long, humans have used their creativity and intellect to destroy and kill. Just think of the organized industrialized killing today; how precious life can be taken before their time just by a click of a button. Thousands of children lost their future in horrible wars in Ukraine and Gaza. It reminds me of the words of the late Carl Sagan after he looked at the image of earth taken by Voyager 1 at a distance of 3.7 billion miles (6 billion kilometers) from the Sun.[6] From that distance, the earth is just a small speck of pale blue dot. The image, Sagan contended, should make us more humble with one another, and it should make us seek peace instead of spilling rivers of blood. The image later became an inspiration for the title of his book; in it, Sagan discussed how future humans can settle into another planet, terraforming and re-engineering the planet to make it habitable.[7] In some sense, Sagan may have just discussed the future of environmental history, the scope of which includes the cosmic environment.

The underlying engine, in my view, of the creative and intelligent destruction of the planet is economics. Bridle touched this when he said that the destruction happens because we wanted “to maintain our current rate of growth, at whatever cost necessary.”[8] This was largely enabled by the underlying ideology in economics that more growth is a good thing. The need to reform the economic model has long been discussed in literature. One way of doing it, according to David Orrell, is to include ethics in the economic equation.[9] Growth cannot be our primary objective while discarding everything else; economics must be guided with sound ethics to make it sustainable. As we strive for endless growth, we must always bear in mind that the resources we have in the environment are finite.

In his introduction, Bridle also touched on the “anthropocene,” which described the current time in which human activity actively shapes the environment and the planet itself.[10] I first was introduced to the concept by Prof. Biggs in his first lecture. But Bridle put forward a different thinking: instead of just humans affecting nature, it is also the other way around; nature and environments are affecting us. In fact, he argued that this binary thinking is not the correct way of perceiving our reality: there is no us and nature, in ecological terms; we are nature, we are part of the planet and the changes within it.

Another interesting point discussed by Bridle is the nature of intelligence. Bridle argued that intelligence was not uniquely human; the work in biological and behavioral sciences, he argued, has opened up the understanding of different and non-human intelligences.[11] Reading his take on intelligence makes me wonder whether he took this idea from one of the books that I had read by Rupert Sheldrake. A quick glance at the bibliography did not register Rupert’s name, but it is interesting to find that his son, Merlin Sheldrake, was listed. Sheldrake (the father) was a dissident scientist. He, in my view, takes the matter deeper. Intelligence presupposed consciousness. Sheldrake in his discussion challenged the materialism point of view about the nature of consciousness and went to discuss consciousness in nonbiological matter, including in the atoms.[12]

According to Bridle, different forms of intelligence arise as a result of different umwelt acting on the being.[13] This means that the environment has conditioned every certain being for a certain set of behavior.[14] Consequently, different forms of intelligence must be judged differently; it cannot be judged using the basis of human intelligence. This human bias will blind ourselves to other forms of intelligence as we see them to be intelligent only if they can imitate what a human can do. Apart from umwelt, each animals have individuality and personality, according to Bridle, so they can behave differently for the same set of experiments.[15] They are not an exact clone copy. This conclusion, in my view, is parallel to other previous studies on animals. For example, Jane Goodall, who studied the chimpanzee, noted that they have “a unique personality and each has his or her own individual life history.”[16] To illustrate his point, Bridle discussed the various aspects of intelligence found in apes, elephants and cephalopods.[17] In a way, he wanted to dispel the notion that intelligence is exclusive only to humans. Reviewing the scientific literature, he went further: not only humans and animals have a form of intelligence, Bridle also discussed how intelligence was found in plants. This form of intelligence includes a plant’s ability to hear, communicate, collaborate and store memories without a brain.[18] Plants also were observed to be migrating according to the changing climate condition.[19] We as humans always perceived intelligence using our human bias; we fell into the trap of anthropocentrism and anthropomorphism, which makes us view intelligence as the ability of other beings do what humans can do. This view, according to Bridle, is the mistaken view of perceiving intelligence. It will blind us from other forms of intelligence and other forms of worlds around us.  

After exploring the intelligence in animals and plants, Bridle explored the intelligence of our human ancestors. How we as a species was actually a product of the interbreeding of Sapiens, Neanderthals and Denisovans. He also challenges our perception of our ancestors; instead of ancient savages, they might also have shared many similarities with us, including the appreciation of music. As he explored the lives of our ancestry and visited ancient sites such as Göbekli Tepe, it reminded myself of a documentary by Graham Hancock that challenges the standard narratives of archeology and presupposed the existence of an advanced ancient civilization.[20] Although many accused Hancock’s theory as pseudoscience and pseudoarcheology, the fact that the debate exists seems to me that our prehistory is more complicated than we think. Humans are not just a product of interbreeding of different species; we also were made up of viruses. This fact first came up to me in a lecture by Carl Zimmer at the Royal Institution of Great Britain where he said that “our genome has a huge amount of viral DNA in it,” meaning that a part of us actually were viruses.[21] All of these led to the conclusion that we are not distinct or separate from nature; in fact, we are part of it.

Although the idea of plants and animals are intelligent is not actually new, one interesting exploration that Bridle had created is throwing machines into the mix; to view man-made machines not as a mechanistic system but part of the environment that is intelligent. The earth was presented by Bridle as alive and self-regulating as in the theory of Gaia.[22] I think this should at least make us optimistic. If earth really has a self-healing mechanism, the destructions that humans continue to make are actually not destroying the planet, as comedian George Carlin once said, we are destroying ourselves.[23] The planet will be fine; it has endured much worse catastrophes, and just as we displaced the dinosaurs as a dominant species, a new organism will evolve once humans are gone, as the earth heals herself.

Bridle explored how, in our technological advances, with even more high-speed computational power, these technologies have their limitations. One aspect that has been discussed in the book is the failure of computers to generate random numbers.[24] To overcome this problem, technologies have to collaborate with nature; they need to take quantitative values from a natural phenomenon, which is truly random. This shows that the separation between machines and nature is a false paradigm. To solve an even more complex problem, humans need to collaborate with his or her environment; these collaborations include other beings — plants, animals and machines.

All these point to a conclusion that we must acknowledge that we are part of this ecology: the world does not consist of humans, as Bridle kept repeating in his writing, the world is a “more-than-human world.” It consists of multiple beings with multiple forms of intelligence. This realization should make us ponder on how we organize our environment, to look closely at our environment and understand its history, so that we can learn from it and build a new environment that is more sustainable. As Edward Carr once said in his book, as humans become conscious of history, he began not only to shape the environment but also himself.[25] Thus, in order to become a good shaper of our history, we need to learn and understand our environment and its history.

A Malaysian Personal Reflection

Reading and studying environmental history evokes many memories of the environment when I was growing up. It suddenly makes me aware of the changes that have happened and are happening in the environment all around me. It makes me aware that the changes of this landscape have a history, an environmental history. In this section, I would like to note some of them. A personal reflection of mine.

It has been a custom in Malaysia, at the end of the holy month of Ramadhan, people would travel back to their familial village to celebrate Hari Raya (Eid al-Fitr) with their families. This phenomenon is locally called “balik kampung,” which literally means to return (balik) to the village (kampung). In my own experience, when I was a boy, we alternated between two kampungs, between Kampung Changkat Tin, Perak, to visit my father’s side of the family and Kampung Parit Tengah, Bagan Datuk, Perak, where my mother was from.

Kampung Changkat Tin today is a sleepy village, although historically it wasn’t so. The original name of the kampung was Changkat Petaling, but with the advent of the tin mining industry the new name replaced the old one.[26] The village was situated at the southern part of Kinta Valley in the state of Perak. During its heyday, Kinta Valley was the main area in which tin mining activities operated. The tin mining industry began to industrialize in Perak around the 1800s, where the local Malay leader at that time, Long Jaafar, brought in Chinese miners to develop local mines.[27] It was then further developed and expanded with new mechanical technologies under the British colonial rule. The tin mining industry made a significant impact on the social and demographic conditions of the area. Once a sleepy village, it quickly grew into a vibrant and busy industrial area. My grandfather was one of the Malay laborers working on the tin mine, where he worked on the Southern Kinta’s No. 2 dredge operated by Southern Kinta Consolidated Limited until 1969. By 1985, the global tin market began to collapse, and with it the local industry disappeared.[28] The village that once became a vibrant industrial area degraded back to its sleepy-state village.

It was a nostalgic and fun ride in the 1990s, as my father drove our family from Kuala Lumpur to Kampung Changkat Tin in our old Nissan Sunny car. We did not have smart phones at that time; the only thing you could do in the car on that long ride was to quarrel with your siblings or gaze at the landscape. I did both, naturally, but as I got older, the landscape took more of my interest. I noticed that there were a number of lakes along the road. I asked my father once, why were there so many lakes around our kampung? My father told me that the lakes are the remnants of the old, abandoned tin mines. I asked my father, why didn’t they bury the mine after they finished mining the tin? My father had said the company was supposed to do that and restore the area, but they did not have any incentive to do so. In the end, they just abandoned the site. If you look at Kinta Valley on Google Maps, you will directly notice these lakes dotting the area — hundreds of them.

Although this can amount to malpractice in tin mining operation, as the industry disappeared, nature started creeping back into the area. The lakes have now evolved to become their own new environment. This environment also shaped the socioeconomic activities of the villagers. Later research on the abandoned mine (that has now become a lake) found a high concentration of lead in the water, but they also acknowledged that this water can be used as a fresh water supply after treatment.[29] Research also found that biodiversity has returned to these artificial lakes. One study recorded eight species of fish and two species of shrimp found in the lakes.[30] These former tin mining sites also now have become a natural water catchment area to control the floods and can be developed further as a recreational area for the local population.[31] The population also has decreased significantly in this area, and increasingly more people are migrating to urban areas. The history of these abandoned tin mining sites for me is very interesting; we can learn how mining changes the soil and water quality. As we learn more about them, if we look closely, we can understand the process of the Gaia healing herself as nature crawls back and restores the area with new species.

My second kampung, located in Bagan Datuk in Lower Perak, sits at the end of the Perak River where the river meets the Malacca Strait. Previously, Bagan Datuk was a small town with many villages that were involved in agriculture and plantation. In 2017, Bagan Datuk was upgraded into a district and became the 12th district in Perak.[32] My grandfather is a third generation of “Orang Banjar,” which is an ethnic group that migrated to the Malay Peninsula. My grandmother is “Orang Kampar”; she migrated to Bagan Datuk before the Malaysian independence with her family from Kuok, Bangkinang (now Indonesia). According to Salleh Lamry, Orang Banjar originated from Southern Kalimantan, and many of them migrated at the end of 19th century to the Malay Peninsula. In Bagan Datuk, Orang Banjar worked in the coconut plantation industry.[33]

The potential commercial plantation of coconut in Lower Perak was recognized circa 1910. Before independence, the British government encouraged local population to be involved in the coconut plantation; by 1948, 45,608 hectares of land was used in Lower Perak for coconut plantation with Bagan Datuk as the main hub producing the largest yield.[34] After independence, the government continued to encourage local planters to expand the coconut plantation with more land being opened. The government also helped the locals by giving them capital support. By 1966, the plantation area has grown almost double, covering 83,586 hectares.[35] So what effect does this coconut plantation industry have on me as a kid going back to my kampung during Hari Raya?

Apart from the vast coconut plantation that can be seen all over the kampung, another glaring landscape in my kampung is the vast network of irrigation waterway that was known as “parit.” Almost all of the village houses have a parit in front of them; usually a wooden bridge will connect the houses to the main road. This parit played a significant part in my relation to the kampung. As a kid, this parit was at the center of my experience in kampung. My mother used to tell me that during her time as a child, the parit was well maintained; it is constantly dredged and deepened. The water was crystal clear. She and other village children used to swim and bathe in them. Sadly, by the time I came into the scene, many of this parit had fallen into disuse. They were not well maintained and many parts of the parit were clogged with rubbish. The industry was changing in Lower Perak at that time, coconut was no longer profitable and a new crop was spreading in Malaysia, which was palm oil.

As the industry changed, so does the environment. Although the parit was disused commercially, nature has been busy in the parit. During the breeding season, the parit landscape turned pink. I was very curious about this color; the pink color turned out to be the eggs of freshwater snails called pomacea (locally known as “siput gondang”). It turned out to be an invasive species from South America that became a significant pest in the paddy fields.[36] As a kid, apart from the bright color of their pinkish eggs, these snails did not interest me much. The disused parit was rich with aquatic life including many fishes. Catching these fishes was the main agenda for me and my brother as soon as we disembarked from my father’s old Nissan Sunny. We had a great time catching these fishes; among the most abundant at that time was haruan (channa striata), puyu (anabas testudineus) and sepat (trichogaster). These catches were later brought to our aquarium in Kuala Lumpur.

As I grew older (and hopefully wiser), I came to realize that the landscape I encountered as I was growing up has a history. This history was a blend of the environment and human activities. It was also shaped by technology; for example, in the case of tin mining in Kinta Valley, the introduction of mechanical dredger (locally known as “kapal korek”) made a significant impact on the production of lakes now dotting the map. To be aware of this history, and to understand the environment, for me is very important, as it informs us of our place in the world and the role we can play to shape it for the better.

Conclusion

Environmental history is a very interesting topic to explore. It studies not only human activities, but also the intersection of human activities with nature. As we understand from the writing of James Bridle, this intersection does not mean that humans and nature are two separate beings. Our approach to studying nature and our environment is not to conquer and dominate them. Instead, we are part of nature; our environment is a mesh between humans, animals, plants and machines. As humans progress further, the need for humans to work with nature becomes ever more critical. As I reflect on environmental history with my own experiences, I notice that there are many interesting areas to explore in Malaysia. There are many landscapes shaped by previous human activities that are worthy of closer inspection. These inspections will inform us about our environmental past and help us build a better future.

Acknowledgement

I would like to thank my good editor, Rao Sharmizan, who had meticulously improved the text and made it more readable. His suggestions and thoughts always point me in a better direction in giving the text better clarity and understanding.

Bibliography

Biggs, D. Footprints of war: Militarized landscapes in Vietnam. US: University of Washington Press, 2018.

Bridle, J. Ways of Being: Animals, Plants, Machines: The Search for a Planetary Intelligence. UK: Picador, 2023.

“The Planet is Fine.”  The Orchard Enterprises PlanetThe Planet is Fine,”. Jammin’ in New York. The Orchard Enterprises. Published on April 30, 2016, YouTube video, 13:37. https://www.youtube.com/watch?v=sOWgNKGE5tw.

Carr, E. H.. What is History. UK: Penguin Books, 1964.

Goodall, J.. “Chimpanzees — bridging the gap.” The Great Ape Project (1993).

 Tiley, Marc, dir. Ancient Apocalypse, featuring Graham Hancock. Aired November 10, 2022, on Netflix.

Herman, E. S., and Chomsky, N.. Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media. US: Pantheon, 2002.

Mohd Irwani Hafiz Sahid, Fhaisol Mat Amin and Khalisanni Khalid. “Kandungan pemakanan siput gondang (Nutritional composition of the apple snail).” Buletin Teknologi MARDI 6 (2014): pp. 99-105.

Mohd Rifzal Mohd Shariff, Esmawee Endut, Ahmad Faisal Alias and NorHaslina Jaafar. “Conservation Strategies on the Abandoned Towns in the Former Tin Mining Towns in Lembah Kinta, Perak.” MAJ-Malaysia Architectural Journal 4, no. 2 (2022): 22-28.

Mohmadisa Hashim, Nasir Nayan, Yazid Saleh, Hanifah Mahat, Zahid Mat Said and Wee Fhei Shiang. “Water quality assessment of former tin mining lakes for recreational purposes in Ipoh city, Perak, Malaysia.” Indonesian Journal of Geography 50, no. 1 (2018): 25-33.

Murray, O. “Herodotus and Oral History.” In The Historian’s Craft in the Age of Herodotus, edited by Nino Luraghi, pp. 16-44. Oxford: Oxford University Press, 2001.

Ng, Wei Lin. “Diversity studies of fish and shrimp species in disused tin-mining ponds of Kampar, Perak.” Final year project, Universiti Tunku Abdul Rahman, 2011.

Nurul Asyikin Dzulkifli, Mohamad Khairul Anuar Mohd Rosli and Norasmahani Hussain.  “Pembangunan Pertanian Komersial Di Hilir Perak, 1900–1973: The Development Of The Commercial Agricultural In Lower Perak, 1900–1973.” Asian Journal Of Environment, History And Heritage 7, no. 2 (2023).

Orji, K., Sapari, N., Yusof, K., Asadpour, R. and Olisa, E. “Comparative study of water quality of rivers used for raw water supply & ex-mining lakes in Perak, Malaysia.” IOP Conference Series: Earth and Environmental Science 16, no. 1 (2013).

Orrell, D. Economyths: 11 Ways Economics Gets it Wrong. UK: Icon Books, 2017.

Sagan, C. and Druyan, A. Pale Blue Dot: A Vision of the Human Future in Space. US: Ballantine Books, 2011.

Salleh Lamry. “Madam ka Banua Urang: Migrasi dan Perubahan Sosial dalam Kalangan Orang Banjar di Malaysia.” Konferensi Internasional: Transformasi Sosial dan Intelektual Orang Banjar Kontemporer. Banjarmasin, Indonesia, 2016.

Shamsul Kamal Amarudin and Shaarani Ismail. “Bagan Datuk secara rasmi daerah ke-12 Perak.” Berita Harian. January 9, 2017.

Sheldrake, R. The Science Delusion. London: Coronet, 2013.

Tarmiji Masron, Hassan Naziri Khalid, Nur Faziera Yaakub, Siti Khatijah Zamhari and Fujimaki Masami. “Tin Mining Activities and Sustainability of Mining-Based Cities in Peninsular Malaysia.” The Journal of Ritsumeikan Geographical Society 31 (2019): 27-51.

“Are Viruses Alive? — with Carl Zimmer.” The Royal Institution. Published on November 26, 2021. YouTube video, 53:20. https://www.youtube.com/watch?v=Tryg5UCp6fI.


[1] Oswyn Murray, “Herodotus and Oral History,” in The Historian’s Craft in the Age of Herodotus, ed. Nino Luraghi (Oxford: Oxford University Press2001): 16-44.

[2] David Biggs, “Special Lecture: Towards an Environmental History of Southeast Asia,” Universiti Sains Malaysia (via Webex), April 1, 2024.

[3] David Biggs, Footprints of war: Militarized landscapes in Vietnam (US: University of Washington Press, 2018).

[4] I first read the account of American chemical warfare in Vietnam with the use of material such as napalm and Agent Orange from a book by Noam Chomsky years ago. The book was co-authored by Edward S. Herman, titled Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media.

[5] James Bridle, Ways of Being: Animals, Plants, Machines: The Search for a Planetary Intelligence (UK: Picador, 2023), pp. 6.

[6] NASA/JPL-Caltech, The Pale Blue Dot, 1990, https://science.nasa.gov/resource/voyager-1s-pale-blue-dot/.

[7] Carl Sagan and Ann Druyan, Pale Blue Dot: A Vision of the Human Future in Space (US: Ballantine Books; Reprint edition, 2011).

[8] Bridle, Ways of Being: Animals, Plants, Machines: The Search for a Planetary Intelligence, p. 7.

[9] David Orrell Economyths: 11 Ways Economics Gets it Wrong (UK: Icon Books, 2017).

[10] Bridle, Ways of Being: Animals, Plants, Machines: The Search for a Planetary Intelligence, p. 16.

[11] Bridle, Ways of Being: Animals, Plants, Machines: The Search for a Planetary Intelligence, p. 10.

[12] This interesting discussion can be found in the chapter “Is Matter Unconscious”in the book by Rupert Sheldrake, The Science Delusion (London: Coronet, 2013), pp. 107-129.

[13] The term umwelt denotes the environmental factors, collectively, that are capable of affecting the behavior of an animal or individual.

[14] Bridle, Ways of Being: Animals, Plants, Machines: The Search for a Planetary Intelligence, p. 33.

[15] Bridle, Ways of Being: Animals, Plants, Machines: The Search for a Planetary Intelligence, pp. 40-41.

[16] Jane Goodall. “Chimpanzees — bridging the gap.” The Great Ape Project (1993): pp. 10-18.

[17] Bridle, Ways of Being: Animals, Plants, Machines: The Search for a Planetary Intelligence, pp. 34-56.

[18] Bridle, Ways of Being: Animals, Plants, Machines: The Search for a Planetary Intelligence, pp. 59-83.

[19] Bridle, Ways of Being: Animals, Plants, Machines: The Search for a Planetary Intelligence, pp. 123-139.

[20] Ancient Apocalypse, directed by Marc Tiley, featuring Graham Hancock, aired November 10, 2022, on Netflix.

[21] “Are Viruses Alive? — with Carl Zimmer” The Royal Institution, published on November 26, 2021, YouTube video, 53:20, https://www.youtube.com/watch?v=Tryg5UCp6fI.

[22] Bridle, Ways of Being: Animals, Plants, Machines: The Search for a Planetary Intelligence, p. 190.

[23] “The Planet is Fine,” The Orchard Enterprises, published on April 30, 2016, YouTube video, 13:37 https://www.youtube.com/watch?v=sOWgNKGE5tw.

[24] This problem was discussed in chapter 7, “Getting Random,” in Bridle’s Ways of Being: Animals, Plants, Machines: The Search for a Planetary Intelligence, pp. 216-249.

[25] E. H. Carr, What is History (UK: Penguin Books, 1964), pp. 142

[26] My source for this original name is from an oral recollection from the local villager who lived in the area. His name was Said Md Nasir bin Said Ahmad. The recollection was done on April 11, 2024. “Changkat” is a Malay word for an elevated area.

[27] Tarmiji Masron, Hassan Naziri Khalid, Nur Faziera Yaakub, Siti Khatijah Zamhari and Fujimaki Masami, “Tin Mining Activities and Sustainability of Mining-Based Cities in Peninsular Malaysia,” The Journal of Ritsumeikan Geographical Society 31 (2019): 27-51.

[28] Mohd Rifzal Mohd Shariff, Esmawee Endut, Ahmad Faisal Alias and NorHaslina Jaafar, “Conservation Strategies on the Abandoned Towns in the Former Tin Mining Towns in Lembah Kinta, Perak,” MAJ-Malaysia Architectural Journal 4, no. 2 (2022): 22-28.

[29] K. U. Orji, N. Sapari, K. W. Yusof, R. Asadpour, and E. Olisa, “Comparative study of water quality of rivers used for raw water supply & ex-mining lakes in Perak, Malaysia,” IOP Conference Series: Earth and Environmental Science 16, no. 1 (2013), 012072.

[30] Ng Wei Lin, “Diversity studies of fish and shrimp species in disused tin-mining ponds of Kampar, Perak,” (final year project, Universiti Tunku Abdul Rahman, 2011).

[31] Mohmadisa Hashim, Nasir Nayan, Yazid Saleh, Hanifah Mahat, Zahid Mat Said and Wee Fhei Shiang, “Water quality assessment of former tin mining lakes for recreational purposes in Ipoh city, Perak, Malaysia,” Indonesian Journal of Geography 50, no. 1 (2018): 25-33.

[32] Shamsul Kamal Amarudin and Shaarani Ismail, “Bagan Datuk secara rasmi daerah ke-12 Perak”. Berita Harian, January 9, 2017.

[33] Salleh Lamry, “Madam ka Banua Urang: Migrasi dan Perubahan Sosial dalam Kalangan Orang Banjar di Malaysia,” Kertas kerja dibentangkan di Konferensi Internasional: Transformasi Sosial dan Intelektual Orang Banjar Kontemporer, Banjarmasin, Indonesia (2016).

[34] Nurul Asyikin Dzulkifli, Mohamad Khairul Anuar Mohd Rosli and Norasmahani Hussain, “Pembangunan Pertanian Komersial Di Hilir Perak, 1900–1973: The Development Of The Commercial Agricultural In Lower Perak, 1900–1973,” Asian Journal Of Environment, History And Heritage 7, no. 2 (2023).

[35] Ibid.

[36] Mohd Irwani Hafiz Sahid, Fhaisol Mat Amin dan Khalisanni Khalid, “Kandungan pemakanan siput gondang (Nutritional composition of the apple snail),” Buletin Teknologi MARDI 6 (2014): 99-105.

Environmental-History-A-Malaysian-Personal-ReflectionDownload
Syed Ahmad Fathi Bin Syed Mohd Khair
Syed Ahmad Fathi Bin Syed Mohd Khair

Author of several books including Berfikir Tentang Pemikiran (2018), Lalang di Lautan Ideologi (2022), Dua Sayap Ilmu (2023), Resistance Sudah Berbunga (2024), Intelektual Yang Membosankan (2024), Homo Historikus (2024), DemokRasisma (2025), dan Dari Orientalisma Hingga ke Genosida (2025). Fathi write from his home at Sungai Petani, Kedah. He like to read, write and sleep.

independent.academia.edu/SyedAhmadFathi

Filed Under: Rencana Tagged With: anthropocene, bagan datuk, changkat tin, environmental history, james bridle, Malaysia, sejarah, syed ahmad fathi

“Intelektual” Bodoh Yang Mempertahankan Kolonialisme

April 28, 2024 By Syed Ahmad Fathi Bin Syed Mohd Khair

Baru-baru ini Universiti Malaya ada menjemput seorang professor dari Amerika Syarikat yang menyokong zionis dan membawa pandangan pro-kolonialisme untuk memberi syarahan. Kelakarnya, ketika professor ini sibuk mengkritik Malaysia sebagai “tidak selamat”, polis-polis di Amerika Syarikat sedang sibuk membelasah professor di sana dan menghalang mereka bersuara. Tindakan polis Amerika Syarikat ini mirip amalan fasisme, ini boleh dilihat apabila professor falsafah seperti Caroline Fohlin dilakukan dengan keras, ganas dan kejam hingga ditolak dan dibaringkan sebelum ditahan, hanya kerana menyokong pelajarnya.

Seorang individu kurang cerdik yang mengaku dirinya “intelektual” telah mempertahankan professor zionis pro-kolonialisme ini atas alasan kebebasan bersuara. “Intelektual” kambing ini telah menulis:

“I am against racism, and genocide but banning a Zionist professor is not the way. Agree to disagree is the principle of academic freedom. Both side have their cause. This is a good time not to just echoing ourselves. Cancel culture is a woke-ism thing and a disease.”

“Intelektual”

Pada pagi 27/04/24, saya bersembang dengan seorang profesor sejarah dari University California Riverside di dalam kereta. Kami ada program bersama. Beliau telah membuka cerita berkenaan dengan professor pro-kolonialisme ini. Dia cakap terus terang sahaja “the guy is an idiot”. Sedikit pun dia tidak mempertahankan professor pro-kolonialisme tersebut. “Intelektual” bodoh tempatan yang membosankan sahaja yang beria-ria dan terkinja-kinja untuk mempertahankan geng zionis pro-kolonialisme ini atas kebebasan idea.

Bagi saya, kalau ada seorang “intelektual” yang mengatakan pembunuhan 30,000 kanak-kanak “is up to debate” dalam suasana “freedom of idea”. Saya tak rasa dia ada setitik zarah pun dari sudut moral untuk digelar “intelektual”. Memalukan sahaja bersembang tentang ilmu mandiri dan kebebasan jika masih mempertahankan kolonialisme, kalau dia cerdik sedikit, dia akan sedar bahawa kolonialisme itu sendiri bercanggah dengan kebebasan.

Syed Ahmad Fathi Bin Syed Mohd Khair
Syed Ahmad Fathi Bin Syed Mohd Khair

Author of several books including Berfikir Tentang Pemikiran (2018), Lalang di Lautan Ideologi (2022), Dua Sayap Ilmu (2023), Resistance Sudah Berbunga (2024), Intelektual Yang Membosankan (2024), Homo Historikus (2024), DemokRasisma (2025), dan Dari Orientalisma Hingga ke Genosida (2025). Fathi write from his home at Sungai Petani, Kedah. He like to read, write and sleep.

independent.academia.edu/SyedAhmadFathi

Filed Under: Rencana

  • 1
  • 2
  • 3
  • …
  • 10
  • Next Page »

Recent Posts

  • Amerika Mulakan Penjajahan Ke Atas Venezuela
  • Tidur Siang Singkat: Kepingan yang Hilang dalam Pendidikan Karakter Kita di Indonesia
  • Aspek Yang Menghubungkan Orang Cina Di Tanah Melayu Dengan Negara China, 1850-2000
  • Kisah Pelombong Melayu Perak Yang Hilang Dari Historiografi
  • Memanusiakan Semula Pendidikan Yang Dikurung

Archives

Copyright © 2026 The Independent Insight