The Independent Insight

Giving truth a voice

  • Email
  • Facebook
  • Flickr
  • Instagram
  • Phone
  • Twitter
  • Vimeo
  • YouTube
  • Berita
  • Politik
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Reviu
    • Reviu Buku
    • Reviu Filem
    • Reviu Muzik
  • Rencana
  • Podcast
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami

Tidur Siang Singkat: Kepingan yang Hilang dalam Pendidikan Karakter Kita di Indonesia

December 23, 2025 By Editor The Independent Insight

Oleh: Muhammad Syarif Hidayatullah

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” sebut dalam QS. Ar-Rum: 23, jika tulisan ini dizinkan untuk membuka topik yang akan dibahas dalam tulisan ini.


Tidurmu pada siang hari. Kalimat itu adalah sebuah klausa dependen yang didikte oleh Qur’an dari khazanah dunia Islam. Dalam ilmu bahasa, klausa dependen itu wajib (seharusnya) bertemu dengan klausa independen; agar sebuah pesan atau makna sebuah bahasa dapat dipahami lengkap maknanya, secara bangunan konseptual. Akhirnya jika kalimat itu lengkap, dan maknanya berisi satu pikiran yang kuat dan jelas (lengkap) maka dengannya bisa ditindaklanjuti menjadi sebuah gerakan atau perbuatan yang benar.


Biarkan kami mengusulkan sebuah pandangan untuk meningkatkan apa yang sudah kita kerjakan bersama, tentang kebiasaan baik yang sebaiknya diikutkan dalam gerakan pendidikan kita di Indonesia.


Kepada yang kita beri salam kebaikan selalu dan hormati, Menteri Dikdasmen RI, staf, dan komunitas saintis, dokter, ahli pendidikan, dan para pihak lain yang bersangkutan dalam wewenang dan keilmuan dalam konteks hal yang akan dibahas dalam tulisan ini. Ada satu hal baik yang luput, dan statusnya bahkan lebih utama yang dapat digandengkan di dalam implementasi Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yaitu aktivitas tidur siang singkat (napping) bagi siswa dasar dan menengah, bahkan untuk pelajar level perguruan tinggi.


Saya mengenal sekali aktivitas tidur siang itu dibiasakan sejak kecil oleh orang tua kita. Bahkan diingatkan, boleh pergi main di luar rumah asal tidur siang terlebih dahulu ujar orang tua kita di masa lalu.


Namun, di masa modern ini justru tidur siang paradigmanya berubah. Dengan aturan, dan asas profesionalisme serta produktifitas. Seakan-akan, paradigma kerja tanpa henti dari pagi ke petang itu simbol final kemajuan dan peradaban dunia modern.


Kapitalisme dan budaya modern mengarahkan dan membentuk kita untuk cenderung meninggalkan kegiatan apa saja, selain kerja semata. Terpenting, bahwa asal seluruh kegiatan pekerjaan dan belajar-mengajar itu dijalankan menurut aturan. Tanpa kita berpikir untuk merefleksikan kembali hal-hal kebiasaan lain yang juga penting, bahkan banyak kebiasaan positif tertentu itu telah hilang. Ia hilang disebabkan karena kecepatan dan efisiensi teknis-mekanis budaya kerja dan belajar yang sedang dasawarsa ini kita akrabi.


Padahal gerakan, aturan, atau program apapun itu ciptaan atas kesepakatan, yang berasal dari proses yurisprudensi hingga menjadi aturan atau program yang tidak jarang tanpa kita sadari sudah dianggap final. Ia menjadi aksioma, atau kebiasaan yang sudah menjadi status quo, dan dianggap sudah paling benar dan sesuai.
Ya, kita sedang membicarakan tentang bagaimana pemerintah melalui Kemendikdasmen telah meluncurkan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, atau jika boleh saya singkat dengan G7KAIH.

Relevansi dalam Gerakan Pendidikan Nasional

G7KAIH ini sebuah peluncuran gerakan inisiatif strategis dalam proses mengejewantahkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul, bagian dari Asta Cita ke-4 pemerintah. Yaitu mewujudkan karakter anak-anak Indonesia agar menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter unggul.


Sebetulnya, tujuan G7KAIH yang disebut itu memberikan kita pemahaman bahwa, seorang siswa atau siswi dapat cerdas hanya jika kondisinya sehat lahir pun batin. Dan kondisi psikologis yang baik berkorelasi dengan tubuh yang juga sehat. Gagasan Kemendikdasmen dalam pengembangan sistem pendidikan nasional yang berorientasi pada penguatan karakter bangsa. Dengan menanamkan delapan karakter utama bangsa yaitu religius, bermoral, sehat, cerdas, kreatif, kerja keras, disiplin, mandiri, dan bermanfaat itu selalu dimulai dari tubuh dan kondisi psikologis para murid yang kuat dan sehat.


Salah satu G7KAIH yaitu anak dapat melakukan Olahraga, menjadi bagian yang juga penting. Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik memiliki dampak signifikan pada fungsi kognitif emosional yang sangat penting bagi pembelajaran yang efektif di sekolah. Disebutkan bahkan aktivitas fisik meningkatkan proses belajar melalui pelepasan neuro-transmiter seperti dopamin dan serotonin, yang berperan dalam meningkatkan fokus, motivasi, dan suasana hati (Doherty & Fores Miravalles, 2019). Hingga pada akhirnya melalui G7KAIH ini diidamkan terbentuk kebiasaan atau karakter unggul yang dimiliki oleh para murid atau anak Indonesia.


Kita paham bahwa, sebuah aturan atau gerakan yang baru dilakukan, akan terasa berat di awal dan akan berusaha mengalami tabrakan kepentingan, dan penyesuaian yang mengambil durasi yang relatif panjang untuk dapat diimplementasikan oleh sekolah di seluruh Indonesia. Namun, proses penyesuaian program yang lama; bukan berarti bahwa kebiasaan baik yaitu tidur siang singkat tersebut tiada tempatnya lagi untuk dimasukkan dan diterapkan ke dalam G7KAIH. Justru, penyesuaian atas tambahan itu menyempurnakan dan mengakselerasi terwujudnya 8 (delapan) Karakter Utama Bangsa.


Bahwa program atau gerakan, pun ide apapun mesti sudah biasa mengalami tesa-antitesa-sintesa, yaitu perubahan (baik pengurangan, penyempurnaan, pun penambahan) dalam prosesnya.


Sebab, untuk mencapai keunggulan. Kita harus mengalami turbelensi, terbentur, kemudian terbentur akhirnya terbentuk cita-cita bangsa ini yang diharapkan bersama.
Dalam tulisan ini, menurut hemat penulis bahwa tidur lebih awal (tidur di waktu malam) salah satu dari G7KAIH itu tidaklah cukup. Bahkan, kurang. Sebab, tidur pada malam hari mesti juga diikuti oleh kegiatan tidur singkat di siang hari. Sebaiknya dua hal tersebut tidak dipisahkan secara sengaja, hanya karena didorong oleh asas kecepatan dan produktivitas.


Kita harus tahu, bahkan tidur siang sekali lagi bukan sesuatu yang dekaden (sebuah kemunduran) di depan “kursi kekuasaan asas produktivitas”.


Justru produktivitas itu muncul sebagai etos yang mesti berpasangan dengan istirahat. Anda boleh kerja dan belajar sebagai kegiatan produktif dalam durasi selama apapun, tapi anda selalu membutuhkan tidur dan istirahat yang cukup. Begitu pula dengan anda dapat tidur dan istirahat dalam durasi selama apapun yang mampu dilakukan, tapi tubuh selalu butuh bangun dan terjaga untuk melakukan aktivitas gerak dan rentetan kegiatan positif lainnya sebagai insan yang produktif. Kesempatan kepada tubuh untuk melakukan aktivitas positif yaitu melalui aktivitas tidur siang.


Walaupun, aktivitas tidur siang dikecualikan untuk beberapa murid dengan gejala dan situasi tertentu. Sebab, terdapat kondisi yang tidak dianjurkan untuk tidur siang seperti seseorang yang terkena insomnia, inersia tidur, atau mengonsumsi kafein yang terdapat dalam kopi atau minuman berenergi, pun atau dari berbagai jenis kondisi dan gangguan tidur lainnya yang dapat menjadi catatan dan perhatian. Olehnya itu, dapat secara pribadi mendapatkan penanganan lebih lanjut ke fasilitas kesehatan yang dapat bekerjasama dengan sekolah atau konsultasi dokter atas persetujuan murid dan wali murid dalam proses menangani situasi pada hal-hal tersebut.

Basis Ilmiah: Otak Butuh Jeda


Seorang Professor dari Departemen Sejarah Virginia Tech Amerika Serikat, Ekirch berpendapat bahwa sepanjang sebagian besar sejarah manusia, praktik umum tidur adalah tidur tersegmentasi. Dalam penelitiannya (2005; 2015), ia menjelaskan bahwa masyarakat pra-industri biasanya tidur dalam dua fase: tidur pertama dan tidur kedua, yang dipisahkan oleh masa terjaga sekitar satu jam setelah tengah malam. Pada periode terjaga ini, orang biasanya bermeditasi, berbincang, atau melakukan kegiatan lainnya (2015, halaman 152). Meskipun para ilmuwan belum mencapai kesepakatan bahwa pola tidur tersegmentasi ini bersifat universal lintas budaya, penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan tidur manusia sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya (Reiss 2017, halaman 33–35).


Buku terbaru Ekirch, yaitu La Grande Transformation du Sommeil: Comment la Revolution Industrielle a Bouleverse Nos Nuits (Transformasi Besar Tidur: Bagaimana Revolusi Industri Mengubah Malam Kita), diterbitkan pada Januari 2021 oleh Editions Amsterdam di Paris. Karya tersebut menghimpun sejumlah artikel, di antaranya dua tulisan Ekirch sendiri, yang secara mendalam menelaah penelitian beliau mengenai sejarah tidur serta implikasi intelektual dan sosial dari temuan-temuan tersebut. Dengan menyebutkan bahwa tidur dan cara kita memandangnya itu dipengaruhi oleh bentukan sosial dan peradaban yang memengaruhi cara dan ”waktu yang baik” bagi masyarakat di tiap generasi tertentu di dalamnya.


Tidur siang singkat menurut hemat penulis, yang hanya 15-20 menit (disebutkan dalam studi bahwa tidak disarankan untuk tidur siang lebih dari 30 menit dan tidur siang setelah jam 3 sore) terbukti positif bagi peningkatan konsentrasi, kewaspadaan, menurunkan hormon kortisol akhirnya meredakan stres, tekanan darah yang menjadi turun secara ideal, memperbaiki mood atau suasana hati murid, kemudian meningkatkan kekuatan ingatan (meningkatnya kemampuan atau daya otak murid dalam mengingat), meningkatkan kesehatan jantung, dan fungsi otak lainnya. Apalagi, aktivitas ini dapat menjadi alokasi waktu yang cocok untuk sekaligus menjadi puasa gawai (terlepasnya sementara kita dari dominasi gawai dalam kegiatan belajar-mengajar di zaman serba digital sekarang ini).


Penelitian terbaru dari University of California, Berkeley, menunjukkan bahwa tidur siang selama satu jam dapat secara signifikan meningkatkan dan memulihkan kemampuan otak. Temuan tersebut bahkan mengindikasikan bahwa pola tidur bifasik tidak hanya menyegarkan pikiran, tetapi juga dapat meningkatkan kecerdasan seseorang.


Sebaliknya, semakin lama kita terjaga, semakin menurun pula ketajaman fungsi kognitif kita. Temuan ini sejalan dengan data sebelumnya dari tim peneliti yang sama, yang menunjukkan bahwa begadang semalaman, praktik yang umum dilakukan mahasiswa saat ujian tengah semester atau akhir, dapat menurunkan kemampuan menyerap informasi baru hingga hampir 40 persen akibat tidak berfungsinya sejumlah area otak selama kurang tidur.


Mengutip Matthew Walker, seorang sleep scientist dari UC Berkeley yang setelah memaparkan hasil penelitian mengatakan bahwa manusia membutuhkan tidur baik sebelum dan sesudah belajar sebagaimana yang dijelaskan oleh Matthew Walker di jurnal Elsevier berjudul Cognitive Consequences of Sleep and Sleep Loss. Tidur tidak hanya memperbaiki metabolisme tubuh dibanding di saat seseorang tidak mendapat tidur yang cukup. Tetapi juga bahwa tidur pada level neurokognitif dapat membuat tubuh dan psikologis menjadi lebih baik dan produktif, dibandingkan situasi sebelum anda tidur siang.

Bahkan Matthew Walker menunjukkan grafik hasil penelitian yaitu mahasiswa yang tidur siang (grafik batang warna hijau) menunjukkan hasil yang jauh lebih baik dalam tes memori dibandingkan mereka yang tidak tidur siang yang ditandai pada grafik batang warna merah.

Belajar dari Praktik Global

Tidur siang singkat, bukanlah isapan jempol saja. Tidak penting, atau omong kosong. Sebab, negara maju saja seperti Jepang sudah lama menerapkan inemuri atau tidur siang singkat, Jepang menyebut program “Utouto Time” yang di mana tidur siang singkat itu dilakukan menjelang akhir makan siang jam sekolah. Utouto Time sudah diimplementasikan di SMP dan SMA di wilayah Uto, Prefektur Kumamoto hingga daerah Fukuoka, Jepang.


Di Jepang para murid dipersilakan tidur siang singkat di bangku mereka sendiri. Ketua kelas akan menutup tirai dan mematikan lampu, dan memutar musik-musik instrumen pengantar tidur untuk mempercepat proses lelap tidur siang singkat tersebut. Ini terbukti bekerja, dan sukses dilakukan oleh negara sekaliber Jepang, bukan mustahil dilakukan oleh sekolah-sekolah yang ada di Indonesia.


Tidur siang didesain hanya 10 sampai 15 menit saja, bel akan berbunyi kencang tanda waktu tidur siang singkat sudah berakhir dan para murid, langsung kembali belajar seperti biasanya. Dan sebagai catatan, Jepang sudah menjalankan program inemuri atau tidur singkat siang sejak tahun 2015 silam.


Hal yang sama juga diterapkan di Meksiko, dan bahkan oleh negara yang sudah maju seperti Tiongkok. Sekolah di daerah Huichang, Provinsi Jiangxi, Tiongkok menyediakan kursi tidur dan meja lipat. Bahkan dilaporkan oleh China Daily bahwa setidaknya ada 21 ribu murid SD di provinsi Hebei selalu senang ketika pukul 12:30 siang, karena diminta gurunya untuk mengubah kursi juga meja mereka menjadi tempat tidur siang singkat.


Menariknya, berbeda istilah dan ragam bentuk napping (tidur siang singkat) seperti di Jepang dan Tiongkok. Di Spanyol dan negara Mediterania lainnya, ketika siang hari masyarakat negara-negara Mediterania terbiasa melakukan aktivitas tidur siang, yaitu disebut dengan sebutan Siesta. Sedangkan, bagi orang-orang Italia sangat lumrah dalam menjalankan kegiatan Riposo, kegiatan yang sama yaitu waktu yang digunakan oleh orang Italia untuk beristirahat. Banyak jajaran pemilik toko dan dan pekerja melakukan aktivitas ini.


Sedangkan kultur lain dari belahan bumi lain, seperti di Islandia, kebanyakan masyarakatnya dilatih untuk tidur siang di luar ruangan (outdoor), bahkan sejak bayi.
Ini memang menjadi bukti, bahwa kultur demikian yang disebut di atas dijalankan sejak lama dan dianggap sebagai bagian rutinitas untuk mengoptimalkan tenaga dan pikiran agar maksimal dalam mengerjakan kegiatan hidup produktif lainnya. Peneliti dari Pennsylvania University di jurnal Sleep pada tahun 2019, dan riset Nathalia, dkk yang terbit di jurnal Frontiers in System Neurosciense (2018) menyebutkan tidur di sekolah yang difasilitasi dapat meningkatkan durasi declarative memory atau ingatan jangka panjang dalam sistem memori otak.


Dijelaskan lebih detail dalam jurnal tersebut bahwa jika anda tidur siang singkat, maka memiliki korelasi positif dengan kebahagiaan, ketabahan, dan peningkatan pengendalian diri yang jauh lebih tinggi. Bersamaan pula berkurangnya masalah perilaku internalisasi, dalam proses penyerapan atas nilai-nilai hidup. Tentu saja dengan skema dan mekanisme yang diperhitungkan dan diterapkan secara benar dan tepat oleh seluruh pemangku kepentingan, maka kita dapat terus menyempurnakan cita-cita bangsa kita; menjadi generasi yang unggul dan berkarakter tangguh.

Implementasi di Indonesia


Sekali lagi, tidur siang singkat meningkatkan kecerdasan verbal, dan yang pasti meningkatkan prestasi akademik yang lebih baik.

Mengintegrasikan tidur siang singkat ke dalam G7KAIH adalah langkah strategis. Ini bisa menjadi momen “puasa gawai” sejenak bagi siswa di era digital. Tentu, pelaksanaannya memerlukan penyesuaian. Siswa dengan kondisi tertentu seperti insomnia atau gangguan tidur lainnya perlu penanganan khusus bekerjasama dengan fasilitas kesehatan.


Namun, tantangan teknis tidak boleh menghalangi manfaat besarnya. Jika kita mendambakan generasi yang cerdas, tangguh, dan bahagia, kita harus berani mengoreksi definisi produktivitas kita. Tidur siang singkat bukan tentang bermalas-malasan; ia adalah investasi biologis untuk mencetak prestasi akademik yang lebih tinggi dan karakter yang lebih kuat.


Sudah saatnya kebiasaan baik ini dikembalikan ke dalam ruang kelas kita. Sebagaimana kita tahu investasi terbaik dan tepat kita di bidang pendidikan, sama pentingnya dengan peningkatan kesehatan generasi ini yang diamanatkan oleh undang-undang dasar dan para Founding Persons kita. Bahwa Pasal 28C ayat (1) UUD 1945 mengarahkan dengan tepat yaitu setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. Dan kita bisa mencapai itu sebagai bangsa dan tanah air yang besar dan kuat.

Muhammad Syarif Hidayatullah merupakan guru sekolah Islam Al-Azhar BSD@Cileungsi dan Direktur Eksekutif Salaja Pustaka Institute.

Tidur-Siang-SingkatDownload
Editor The Independent Insight

Kami mengalu-alukan cadangan atau komen dari pembaca. Sekiranya anda punya artikel atau pandangan balas yang berbeza, kami juga mengalu-alukan tulisan anda bagi tujuan publikasi.

Filed Under: Rencana Tagged With: Indonesia, Pendidikan Nasional, Tidur, Tidur Siang

Guru Gembul versus Ustadz Nuruddin: Pentingnya Berbicara Sesuai Kapasitas

October 16, 2024 By Editor The Independent Insight

Oleh: Muhammad Nur

Baru-baru ini, dunia maya digemparkan oleh sosok Guru Gembul, seorang guru mata pelajaran PKN dan sejarah di salah satu sekolah di Bandung, yang menjadi viral di media sosial terutama karena konten-kontennya di platform YouTube. Guru Gembul ini dikenal aktif berbicara tentang berbagai topik yang sangat luas mulai dari ilmu agama, sejarah, sains, hingga filsafat. Meski topik-topik tersebut memiliki cakupan yang kompleks dan mendalam, Guru Gembul kerap kali mengangkatnya dengan cara yang terkesan asal-asalan dan tanpa dukungan referensi yang memadai. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai apakah ia sebenarnya berbicara di luar kapasitasnya sebagai seorang guru PKN dan sejarah?

Pada tahun 2023, Guru Gembul menuai kontroversi setelah mengkritik pendidikan di Indonesia dalam gelar wicara di BTV. Lima aktivis pendidikan melayangkan somasi karena menilai kritiknya terhadap kompetensi guru melecehkan profesi tersebut. Guru Gembul kemudian mengklarifikasi bahwa kritiknya ditujukan pada Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK), bukan pada individu guru. Masalah ini akhirnya diselesaikan dengan damai. Di tahun 2024, Guru Gembul kembali memicu kontroversi dengan menyatakan bahwa sistem indrawi manusia tidak layak menjadi sumber informasi terpercaya. Pernyataan ini ditanggapi oleh Abdul Muin Banyal, yang menegaskan bahwa meski indra manusia terbatas, keterbatasan ini justru mendorong inovasi dalam menciptakan alat bantu untuk memperluas kemampuan indra, yang tetap mengandalkan observasi manusia. Bukan berarti indra manusia tidak dapat dijadikan sumber informasi

Belakangan ini, Guru Gembul juga terlibat dalam kontroversi dengan beberapa habib atau habaib terkait masalah nasab Ba’alawi—sebuah topik yang cukup sensitif dalam diskursus Islam. Kemudian baru-baru ini, dalam pernyataannya, Guru Gembul menantang publik dengan argumen bahwa akidah tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Tantangan ini mendapat tanggapan dari Ustadz Nuruddin, seorang tokoh yang memiliki latar belakang ilmu agama yang mumpuni. Ustadz Nuruddin akhirnya mengundang Guru Gembul untuk berdebat secara langsung mengenai topik yang dia lontarkan.

Namun, ketika debat antara keduanya berlangsung, Guru Gembul tampak tidak siap menghadapi hujan referensi dan dalil yang dibawakan oleh Ustadz Nuruddin. Alih-alih merespons dengan argumen yang terstruktur dan berbasis ilmu, Guru Gembul lebih banyak membahas hal-hal di luar topik debat, mengalihkan pembicaraan, dan bahkan tidak menghormati moderator yang bertugas menjaga kelancaran diskusi. Gaya berbicaranya yang terkesan asal, tanpa dasar yang kuat, serta kurangnya referensi ilmiah yang mendukung pernyataannya, semakin memperlihatkan bahwa ia tidak memiliki pemahaman mendalam mengenai topik yang sedang dibahas.

Debat ini menjadi contoh yang jelas tentang pentingnya berbicara sesuai dengan kapasitas dan kompetensi yang dimiliki. Guru Gembul, dengan latar belakang sebagai seorang guru PKN dan sejarah, tentunya memiliki keahlian dalam bidang tersebut. Namun, ketika ia mencoba membahas topik yang berada di luar bidang keahliannya, seperti akidah dan nasab dalam Islam, tanpa dasar ilmu yang kuat atau referensi yang memadai, hasilnya adalah pernyataan-pernyataan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Inilah yang menyebabkan perdebatan tersebut menjadi tidak produktif dan tidak menghasilkan kesimpulan yang bermanfaat.

Peran seorang guru atau pendidik seharusnya menjadi teladan dalam berbicara dan berargumen berdasarkan ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan. Sayangnya, Guru Gembul tidak hanya mengabaikan hal ini tetapi juga cenderung memaksakan opininya tanpa memberikan ruang untuk dialog yang sehat dan ilmiah. Sebaliknya, Ustadz Nuruddin dalam perdebatan tersebut tetap berpegang pada data, referensi, dan argumen yang logis, meskipun upayanya untuk menjelaskan sering kali terganggu oleh respons yang tidak relevan dari lawan debatnya.

Kontroversi ini menggarisbawahi pentingnya bagi setiap individu untuk berbicara sesuai dengan kapasitasnya, terutama ketika mengangkat topik yang berhubungan dengan ilmu agama atau hal-hal yang memerlukan pemahaman mendalam dan kajian yang serius. Dalam dunia akademis maupun kehidupan sehari-hari, adalah hal yang bijak untuk mengakui keterbatasan diri dan menyerahkan pembahasan topik-topik tertentu kepada mereka yang benar-benar ahli di bidangnya.

Berbicara tanpa kapasitas yang memadai tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga dapat menyesatkan orang lain yang mungkin mempercayai informasi yang disampaikan. Ketika seseorang dengan kepercayaan diri yang tinggi menyampaikan argumen yang tidak didasari ilmu atau referensi yang tepat, dampaknya bisa memicu kebingungan bahkan kesalahpahaman di kalangan publik.

Oleh karena itu, permasalahan ini seharusnya menjadi pembelajaran penting bagi kita semua tentang pentingnya berbicara sesuai dengan kapasitas kita. Menghargai ilmu pengetahuan, bersedia belajar dari orang-orang yang lebih ahli, serta selalu mencari referensi yang tepat adalah kunci untuk memastikan diskusi atau perdebatan yang sehat dan produktif. Mari kita jadikan momen ini sebagai pengingat untuk tidak terjebak dalam fanatisme opinional tanpa dasar dan selalu berusaha untuk berbicara dengan landasan yang kokoh.

Tentang Penulis

Muhammad Nur merupakan seorang mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Motivasi utama beliau dalam menulis adalah untuk memberikan manfaat, tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi orang lain. Beliau percaya bahwa tulisan memiliki kekuatan untuk menyebarkan ilmu, menggugah pemikiran, dan mendorong perubahan positif dalam masyarakat. Dengan semangat ini, beliau berusaha menjadikan setiap karya beliau sebagai kontribusi yang berarti, baik dalam ranah akademik maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Editor The Independent Insight

Kami mengalu-alukan cadangan atau komen dari pembaca. Sekiranya anda punya artikel atau pandangan balas yang berbeza, kami juga mengalu-alukan tulisan anda bagi tujuan publikasi.

Filed Under: Berita Tagged With: Guru Gembul, Indonesia, Ustadz Nuruddin

Dalam Kekuasaan: Tak Jarang Yang Hilang Adalah Kemanusiaan

January 11, 2024 By Editor The Independent Insight

Oleh: Muhammad Syarif Hidayatullah, S.Hum.

Tarik-Menarik Kepentingan Pilpres terhadap Asas The Bangalore Principles.

Dalam esai ini saya akan menjelaskan tugas pokok dan fungsi bagaimana mesin kekuasaan dalam bidang kepemimpinan itu selayaknya bekerja. Dengan berbagai analogi dan eksplanasi yang dibutuhkan, agar mata hati setiap kita kembali kepada kesadaran, keluasan hati, sehingga tercipta kemanusiaan. Sehingga keluasan hati tidak diartikan sebagai keluasan kemauan yang melampaui kepantasan.


Mengutip buku Sapta Karsa Hutama yang ditulis oleh Mahkamah Konstitusi (MK), bahwa “The Bangalore Principles” yang menetapkan prinsip independensi (independence), ketakberpihakan (impartiality), integritas (integrity), kepantasan dan kesopanan (propriety), kesetaraan (equality), kecakapan dan keaksamaan (competence and diligence), serta nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia, yaitu prinsip kearifan dan kebijaksanaan (wisdom) sebagai kode etik hakim konstitusi dan menurut saya prinsip Bangalore Principles ini mesti didawamkan kepada seluruh pejabat dan pemangku kekuasaan di bumi Inoensia ini. Beserta penerapannya, digunakan sebagai rujukan dan tolok ukur dalam menilai perilaku, guna mengedepankan kejujuran, amanah, keteladanan, kekesatriaan, sportivitas, kedisiplinan, kerja keras, kemandirian, rasa malu, tanggung jawab, kehormatan, serta martabat diri sebagai warga negara yang pantas dan tentu wajib dimiliki oleh seluruh pemimpin yang ada di setiap lembaga tanah air ini, baik pemerintah atau lembaga non-pemerintah.


Adalah bentuk kejumudan (kemunduran) ketika seorang yang diberi titipan kuasa untuk memegang dan menjalankan kekuasaan diberikan padanya namun sang pemimpin itu hanya memiliki satu atau dua saja kualitas diri selama dititipi menjadi pemimpin. Sebab, menjadi pemimpin adalah tugas terberat yang secara kontekstual dalam berbagai profesi dan situasinya menuntut kematangan psikologis, moral, sosial, dan intelektual, sekurang-kurangnya demikian.


Tidak bisa tidak, menuntut proses life-long learning, dan kepekaan. Sebagai contoh, dalam sebuah kerja organisasi atau perusahaan seorang pemimpin amat diharapkan tidak memakai kacamata kuda selama ia mengendalikan untuk memberikan perintah, isyarat saat situasi itu mesti butuh belokan, memperlambat kecepatan, meminta berhenti atau menginstruksikan agar menambah laju kecepatan kepada kuda organisasi atau kelompok. Nah, kualitas atau ciri-ciri yang disebutkan di awal tadi mesti bersenyawa ketika memegang tali kekang (horse riding rein) organisasi. Sebab, menjadi layak disebut pemimpin tidak sekadar hanya mempunyai sifat-sifat tertentu seperti karakteristik khas secara fisik, mental, dan kepribadian saja. Selanjutnya karakter sifat tadi sehingga dihubungkan dengan kesuksesan. Akan tetapi, melampaui itu pemimpin diharapkan memiliki pribadi-perilaku yang “mempengaruhi” sehingga diterapkan kepada pengikut serta memiliki kemampuan membaca situasi dan mendiagnostik perilaku manusia atau pengikutnya.


Tidak jarang begitu juga banyak jenis pemimpin seperti di dalam penelitian Pusat Riset dan Survei oleh Universitas Michigan yang berorientasi job-centered secara relatif kaku dan penuh tekanan hanya berfokus pada tugas yang ketat. Dibanding ketika pemimpin yang menerapkan employee-centered sebagai bentuk gaya perilaku seorang pemimpin yang berorientasi pada karyawan; cenderung memperhatikan pertumbuhan, kemajuan dan prestasi pengikut.


Begitu juga temuan dari Fleishman dari Ohio State University (mengutip jurnal Encep Syarifudin) yang meneliti perilaku pemimpin yang mampu membentuk struktur yaitu upaya menjelaskan seluruh cara kerja organisasi bagi pengikut, dan konsiderasi, yaitu mampu menerapkan atmosfir organisasi yang terbuka dan partisipatif bagi pengikut-pengikutnya.


Di dunia organisasi dan perusahaan tidak jarang ditemukan bahwa hampir sering nampak kepemimpinan yang cenderung hanya kepada job-centered yang dalam pendekatan terbaru mengenai penelitian kepemimpinan disebut sebagai gaya kepemimpinan transaksional. Sehingga kadang sukses mencapai program kerja organisasi namun meninggalkan ruang hampa, kering, dan ketidaknyamanan anggota sehingga tidak menutup kemungkinan organisasi akan menemukan “titik jenuh” hingga patah tiba-tiba menemui kemunduran, akhirnya berlanjut pada kegagalan.


Dalam penjelasan yang lain, pemimpin sering tanpa sadar terpaku untuk hanya membentuk dan mempertahankan struktur yang ada, namun kemudian sedikit menerapkan perilaku faktor employee-centered dan membentuk konsiderasi bagi atmosfir organisasi.


Adapun menerapkan faktor-faktor di atas dibutuhkan konsistensi dan kepekaan barak pimpinan, sehingga ruang-ruang partisipatif dan diskusi untuk memecahkan masalah bisa ditemukan bersama.


Karena di satu sisi, organisasi bukanlah teknologi mesin yang mati, namun di dalamnya ada entitas dan divisi makhluk hidup yang butuh dimanusiakan demi kemanusiaan, yang pada dasar dan akhirnya demi mencapai tujuan organisasi.


Itulah mengapa menjadi pemimpin tidak boleh untuk menghindari menyebut “tiada pernah sukses hanya dengan mencukupkan diri pada satu atau dua kemampuan sebagai kualitas saja”. Selain mesti wajib mampu mendiagnosa sifat peribadi dan perilaku diri sendiri, pengikut dan situasi yang tepat untuk diaplikasikan. Di sisi yang sama, karena di zaman era mega narasi disrupsi ini memungkinkan seluruh tatanan sistem kehidupan diberi kesempatan. Organisasi atau perusahaan awalnya kecil bisa maju mengalahkan organisasi yang telah mapan dan memiliki nama besar. Disebabkan teknologi dan informasi menyediakan kesempatan yang sama kepada seluruh masyarakat industri seperti saat ini. Manusia dituntut menjadi semakin cepat dan efisien, kadang menyembelih kemanusiaan demi alasan untuk merealisasikan kecepatan dan efisiensi tadi.


Kekuasaan kemudian menemui titik persaingan di depan gelanggang kecepatan. Ketika seseorang sedang semangat dan ambisius tanpa jeda berlari maraton di medan laga, tidak jarang ia akan lupa kepada batasan, dan kawannya, apalagi kepada orang-orang yang dianggap lawan. Di situlah, kekuasaan menawarkan kenyamanan dan ke-melarut-an tiada henti, hingga sebenarnya kita sadar bahwa apa yang sedang kita cari tak lebih membentuk menjadi lingkaran; mencari untuk mencari. Menemukan kebenaran tak lebih penting dibanding mencari kebenaran. Perjalanan tiada henti, yang ada hanya letih dan dahaga kekeringan, dan kekasaran pada jiwa. Ketika kita hanya mendapatkan kepuasan fisikal-ragawi. Tidak terpenuhi dua-duanya.


Olehnya kepemimpinan adalah suatu proses. Tidak pakem dan tetap dalam pendekatan dan metodenya untuk semua situasi, setiap zaman akan membutuhkan pendekatan demi pendekatan lainnya sendiri yang sesuai dan tepat bagi konteksnya, terlebih dahulu pemimpinnya memiliki kapasitas dan kapabilitas kematangan psikologis, moral-spiritual, emosional, memiliki kepekaan sosial dan tak lupa mempunyai intelektual, untuk menyebutnya dalam istilah lain sebagai pemimpin transformasional. Seorang pemimpin yang tidak hanya memiliki dirinya sendiri, namun mempertimbangkan juga memberikan stimulus intelektual kepada para pengikutnya. Tidak lupa, seorang pemimpin harus bisa melihat kepatutan, mana aspek-aspek yang sensitif dan jelas dilarang oleh undang-undang dan mana hal-hal yang jelas dan dilegitimasi oleh aturan juga undang-undang di tanah air ini.


Pilpres tinggal menghitung hari. Sedang tarik-menarik kepentingan dan buzzers setiap paslon kiat tajam nan terkadang di luar akal sehat yang patut. Saling curiga, saling salah menyalahkan, hingga saling lapor hingga mempidanakan satu sama lain. Padahal setiap calon pemimpin, biasanya adalah cermin rakyatnya dan lingkungannya. Jika pilpres nanti akhirnya menghasilkan penguasa yang cenderung hanya menguntungkan diri, kelompok bahkan keluarganya sendiri, maka kita jauh dari cita-cita bangsa ini untuk dapat menemukan penguasa yang bertubuh dan berpikiran Sapta Karsa Hutama. Media sosial dibanjiri, fakta dan emosi. Kita tidak bisa hanya mencari data dengan hanya melalui satu sumber tertentu, sebab sekarang ini ujaran kebencian dan tarik menarik kepentingan sedang berlangsung dengan tajam dan Nampak jelas. Maka, dalam pilpres kita mengharapkan terpilihnya seorang pemimpin yang dalam pahit walaupun merugikan dirinya sendiri, namun ia akan tetap terus mementingkan kepentingan jutaan rakyatnya sendiri.


Akhirnya, selalu saja di atas organisasi atau perusahaan, bahkan negara mesti selalu berdiri di atas asas kemanusiaan; tak boleh hilang atau sengaja tidak diberikan, apalagi pura-pura lupa agar dihilang-hilangkan, pun atau lupa diri setelah duduk di kursi kekuasaan yang hanya punya periode atau sementara saja.

Tentang Penulis

Muhammad Syarif Hidayatullah, S.Hum. merupakan penyair sehimpun opus puisi bertajuk “Secarik Rindu untuk Tuhan” (2019), Esais, lulusan Summa Cumlaude di jurusan Bahasa & Sastra Inggris, UIN Alauddin Makassar. Beliau juga adalah Direktur Eksekutif @salajapustaka Institute.

Editor The Independent Insight

Kami mengalu-alukan cadangan atau komen dari pembaca. Sekiranya anda punya artikel atau pandangan balas yang berbeza, kami juga mengalu-alukan tulisan anda bagi tujuan publikasi.

Filed Under: Rencana Tagged With: Indonesia, Kepimpinan, pilpres, The Bangalore Principles

Pertautan Politik Perkauman, Mediokritas Pengetahuan, dan Purbasangka

May 31, 2023 By Editor The Independent Insight

Oleh: Mansurni Abadi

Perihal pilihan raya, ada suasana yang sama antara Indonesia dan Malaysia utamanya dalam taktik politik yang digunakan untuk berkempen yaitu pada soal perkauman. Perbezaan berpolitik yang seharusnya berpaksikan idea-idea bernas untuk negara, malah berubah menjadi arena untuk meruncingkan perbezaaan suku dan agama yang kemudian menimbulkan ketegangan.


Apalagi dengan kehadiran media sosial yang bukan sahaja membuat siapa sahaja boleh membuat dan menyebarkan maklumat sendiri, tetapi juga membuat mereka yang suka membuat politik perkauman untuk meraih undi semakin mendapatkan peluang yang lebih besar daripada sebelumnya.


Apalagi banyak pengguna media sosial di kedua negara serumpun ini sebenarnya tidak cakna dengan nalar kritis sehingga kehati-hatian diketepikan sementara mudah percaya dan amarah di utamakan.


Selalunya politik perkauman berkerja melalui dua hal, yang pertama memainkan naratif keterancaman dengan logik berlandasakan kita vs mereka yang pada akhirnya membuat banyak orang awam memandang sesama saudara sebangsanya sebagai musuh hanya karena perbezaan lahiriah. Seperti di Indonesia misalnya, ketika sebutan cebong (penyokong jokowi) dan kampret (penyokong jokowi) menjadi hal wajar bahkan selepas PRU hanya karena berbeza pilihan, sebutan ini tidaklah elok karena menyamakan manusia dengan binatang.


Di Malaysia pun berlaku hal yang sama, selepas PRU 2022, di media sosial muncul untuk mengulang tragedi rusuhan kaum 13 Mei 1969. Polis Diraja Malaysia sampai memberi amaran kepada mana-mana pihak yang menularkan kebencian. Barisan aktivis, NGO, dan orang awam yang masih peduli pun ikut berkempen #kitakawan untuk mencegah terjadinya rusuhan kaum.


Dan yang kedua, mengubahsuai informasi tentang suatu kes di masa lalu mahupun sekarang dengan mengaitkannya dengan suatu kaum sebagai punca penyebabnya. Dari yang kedua ini selain memunculkan miss-informasi, generalisasi, dan juga menguatkan prasangka seperti misalnya kes pengganas komunis di Indonesia dan Malaysia yang dihubungkan dengan etnik Cina ataupun teroris dengan etnik Arab seperti yang berlaku di Indonesia.


Selepas PRU, selalunya politik perkauman tidak akan usai, malah semakin menjadi-jadi dimainkan oleh pihak yang membenci kerajaan yang menang ketika bertemu dengan momentum tertentu seperti pada konser Coldplay yang dihubungkan dengan kempen LGBT yang kemudian memunculkan naratif kerajaan yang tidak cakna atau terlepas pandang meloloskan kumpulan musik berkenan tampil di Malaysia mahupun di Indonesia.


Ada banyak penyebab politik identiti, dua diantaranya adalah tentang mediokritas pengetahuan terhadap yang lain (the other) dan purbasangka. Penulisan ini akan membedah keduanya.

Mediokritas Pengetahuan terhadap yang lain (the others)

Sepatutnya kalau kurang pengetahuan pada suatu topik, pelajarilah subjek pengetahuan itu dengan seksama. Belajar tidak harus membaca buku tetapi dengan berjumpa dengan orang–orang yang memiliki pengetahuan.


Rantau ini gagal menjadi tamadun yang maju kerana salah satunya adalah akibat insan-insan yang ada dalam posisi mediokritas. Kurang gigih dalam mencari ilmu pengetahuan, kurang kritis, kurang punya standar dasar-dasar berpikir dan meneliti, kurang memacu diri untuk ada dalam standar-standar tertentu saat menjelaskan konsep-konsep. Kita bermasalah sejak kerja akal budi tahap pertama, tidak sampai mampu bernalar.


Kurangnya pengetahuan namun merasa pandai pada akhirnya membuat masyarakat rantau ini melihat kelompok lain yang berbeza itu bersifatkan stereotype. Stereotyping itu dangkal dan abai pada suara dari dalam. Yakni penjelasan Katolik menurut Katolik, Protestan menurut Protestan, China menurut China, Melayu menurut Melayu. Ahmad Wahib dalam Catatan Harian-nya pernah berkata:

Aku ingin mendengar penjelasan Islam dari Islam itu sendiri, dari nabi Islam itu sendiri, dari Tuhan Islam itu sendiri.

Ahmad Wahib, Catatan Harian.

Mediokritas pengetahuan seperti di atas itu membawa masalah, bahkan bencana bagi masyarakat berbilang kaum dan agama. Karena basisnya asumsi, prasangka. Bangsa besar dan masyarakat adil dan makmur tidak berdiri di atas tanah air prasangka.

Manusia dan Purbasangka

Prasangka adalah syarat pra-pengetahuan yang mesti ditingkatkan kepada keadaan berilmu. Syarat kehadiran ilmu yang telah diteorikan adalah suatu usaha yang berdisiplin, gigih dan berterusan yang harus dicapai oleh manusia untuk kebaikan dirinya dan statusnya sebagai manusia.


Menurut agama, manusia tidak boleh maju dan beradab jika hanya hidup dengan prasangka. Kerana prasangka itu lebih seperti waswas. Manusia yang hidup bersama itu mudah dibisikkan oleh syaitan (QS an Nas). Sebab itu kitab suci menyuruh manusia membaca dan meminta perlindungan daripada waswas yang mendorong manusia hidup dengan prasangka buruk (suuzhan).

Mengikut falsafah, sekurang-kurangnya dari pendapat Aristotle, setelah mendapat kesenangan fizikal, manusia juga mempunyai maruah (harga diri/reputasi) dan perlu mengejar akal. Manusia dahagakan intelektualisme. Dahagakan intelektualisme adalah dahagakan ilmu. Kerana manusia tidak mahu hidup dalam prasangka, tetapi mendambakan kehidupan saintifik, setelah membiasakan diri hidup secara semula jadi setiap hari


Adakah kita dalam era revolusi 4.0 ini di mana internet hadir dengan media sosial, media baharu yang menggantikan media konvensional yang berinstitusi seperti agensi berita atau stesen TV dan akhbar daripada penerbitan akhbar, dengan pembaca terhad yang boleh menamatkan era prasangka ini? Sekurang-kurangnya untuk kebaikan kita sendiri?

Persoalan ini boleh dijawab secara optimis kita dapat memanfaatkan nikmat demokrasi 4.0 sepenuhnya dan bersatu menentang berita palsu (tipuan), ucapan kebencian dan penyelewengan. Iaitu dengan menggunakan peluang mengakses internet dengan kesedaran sosial dan keselarasan dengan kepentingan umum (common good).

Masalah politik identiti, sentimen agama, budaya popular, tidak wujud dalam ruang kosong ideologi. Tidak dapat dielakkan bagaimana modal dan penguasanya dapat menentukan hala tuju perdebatan umum. Kerana itu asas ilmu tentang budaya akan mengukuhkan lagi penaakulan daripada ilmu yang cuba dijejalkan dalam masyarakat itu. Dan sudah tentu jika pengetahuan budaya telah difahami teori-teori akan mula timbul persoalan kritikal dari premis sedia ada seperti tragedi budaya, badai budaya, keganasan budaya.

Mansurni Abadi merupakan Mahasiswa Antropologi di UKM. Beliau juga merupakan Pengerusi Bidang Riset bagi Ikatan Mahasiswa Muhamamdiyah Cawangan Malaysia dan merupakan bekas Pengerusi Persatuan Pelajar Indonesia di Malaysia.

Editor The Independent Insight

Kami mengalu-alukan cadangan atau komen dari pembaca. Sekiranya anda punya artikel atau pandangan balas yang berbeza, kami juga mengalu-alukan tulisan anda bagi tujuan publikasi.

Filed Under: Politik Tagged With: Indonesia, Mediokritas, Purbasangka

‘Athirah’: Dilema Seorang Isteri

November 8, 2018 By Mel Van Dyk

sumber foto : Jakarta Globe

IMDB Rating : 7.6/10
Author Rating: 9/10

Sejujurnya jiwa saya tersentuh dengan lakonan Cut Mini Theo sebagai “Bu Mus” di dalam filem “Laskar Pelangi”. Lalu ia membuatkan saya terpanggil untuk menonton filem ini yang watak utamanya iaitu Athirah juga diterajui oleh Cut Mini Theo, di samping posternya yang penuh teka-teki.

Filem Athirah ini atau judul lainnya “Emma” di pentas internasional (atau dalam bahasa melayunya “Emak”) merupakan filem tahun 2016 arahan sutradara Indonesia, Riri Riza. Filem ini diadaptasi dari novel biografi Hajjah Athirah Kalla, iaitu ibu kepada Jusuf Kalla (Wakil Presiden Indonesia ke-12) karangan Alberthiene Endah.

Filem ini berkisar tentang kehidupan Athirah sebagai seorang isteri dan ibu bersama suaminya Puang Ajji yang pada awalnya berhijrah ke Makassar. Mereka lalu mendirikan sebuah perniagaan di Kota Makassar sehingga berjaya dan digelar saudagar paling kaya di kota itu.

Puang Ajji digambarkan sebagai seorang yang taat pada tuntutan agama dan sering menyumbang pada badan kebajikan. Akhirnya pada suatu masa, Puang Ajji sering lewat pulang ke rumah dan kadangkala kerap ke luar kota dengan alasan kerja.

Keadaan ini menimbulkan buah mulut orang ramai. Athirah mengesyaki seperti ada yang tidak kena lalu dia menyelidik perkara sebenar dengan menyoal pekerja Puang Ajji, Daeng Rusdi. Akhirnya Daeng Rusdi meceritakan bahawa Puang Ajji telah berkahwin dengan isteri yang ke dua di Jakarta.

Mengetahui hal sebenar, Athirah mula berperang dengan perasaannya sendiri. Dia berada di dalam konflik demi mempertahankan keluarga tercintanya. Puang Ajji cuba untuk memujuk isterinya dengan alasan bahawa dia tidak sesekali lupa pada tanggungjawabnya dan sering mengingatkan anak-anaknya tentang soal agama.

Kehidupan Athirah dan anak-anaknya mulai berubah.

Di sinilah titik tolak konflik kehidupan yang sering melanda Athirah serta anak lelakinya, Ucu. Akhirnya Athirah membuat keputusan untuk pulang ke kampung halamannya untuk menenangkan fikiran.

Di kampung, ibunya menceritakan bagaimana kesusahan yang menimpanya di zaman penjajah Belanda dan kisah bagaimana asal-usul keluarganya sebagai penenun kain. Dari situ Athirah tertarik dengan seni tenunan sutera dan akhirnya dia menjadi seorang usahawan kain yang berjaya. Athirah kerap membeli emas dari hasil jualannya untuk di simpan sebagai tabungan.

Pada suatu masa, Indonesia mengalami kegawatan ekonomi yang sangat teruk. Nilai mata wangnya jatuh merudum. Perniagaan Puang Ajji merosot dan akhirnya beliau tidak mampu membayar gaji pekerjanya.

Di akhir cerita, Puang Ajji kembali ke rumah dan Athirah menyerahkan kesemua barang kemas, hasil titik peluhnya kepada Puang Ajji. Melihat kesetiaan Athirah, dia tertunduk malu dan menangis.

Mesej yang dibawakan filem ini begitu jelas menggambarkan pengorbanan seorang isteri yang setia dan taat pada suaminya. Ia juga memberikan suatu gambaran bahawa poligami sedikit sebanyak mampu memberikan kesan kepada institusi kekeluargaan kerana tentangan adat dan budaya.

Filem ini telah berjaya meraih 6 Piala Citra di Festival Film Indonesia 2016. Filem ini juga telah dipilih dan ditayangkan di beberapa festival filem antarabangsa seperti Kanada, Korea dan Jepun.

Mel Van Dyk

Part time independent writer and podcaster from Sarawak, Malaysia.

Filed Under: Reviu Filem Tagged With: Asia, Athirah, Film, Indonesia

Recent Posts

  • Tidur Siang Singkat: Kepingan yang Hilang dalam Pendidikan Karakter Kita di Indonesia
  • Aspek Yang Menghubungkan Orang Cina Di Tanah Melayu Dengan Negara China, 1850-2000
  • Kisah Pelombong Melayu Perak Yang Hilang Dari Historiografi
  • Memanusiakan Semula Pendidikan Yang Dikurung
  • Forum Warisan Pulau Pinang Singkap Asal-Usul Sejarah Awal Pulau Pinang

Archives

Copyright © 2025 The Independent Insight